Guru Besar UGM: Krisis Iklim Ancam Pangan dan Picu Bencana
- 28 Jun 2026 00:52 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Krisis iklim kini bukan lagi sekadar ancaman di masa depan, tetapi telah menjadi kenyataan yang dirasakan melalui meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan. Guru Besar Teknik Geologi UGM Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, Ph.D., mengatakan perubahan iklim merupakan fenomena alam yang mengalami percepatan akibat aktivitas manusia sejak Revolusi Industri.
Ia menjelaskan, kenaikan suhu rata-rata bumi sekitar 1,55 derajat Celsius dalam kurun waktu 170 tahun telah melampaui target yang sebelumnya diperkirakan baru akan tercapai menjelang tahun 2100.
"Kenaikan suhu bumi yang sangat cepat ini menyebabkan siklus hidrologi menjadi semakin ekstrim. Kita menyaksikan dalam satu kawasan terjadi banjir besar, sementara wilayah lain mengalami kekeringan. Fenomena ini oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan disebut sebagai climate boiling," katanya dalam Forum Pemikiran Bulaksumur yang diselenggarakan Dewan Guru Besar UGM yang bertajuk tema "Krisis Iklim, Mitigasi Bencana, dan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan" di Balai Senat UGM, Rabu, 24 Juni 2026.
Mantan Kepala BMKG tersebut menuturkan bahwa percepatan perubahan iklim telah memicu meningkatnya bencana geohidrometeorologi, istilah yang diperkenalkannya untuk menggambarkan berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan. Menurutnya, apabila laju perubahan iklim tidak segera dikendalikan, dunia berpotensi menghadapi krisis pangan global pada dekade 2050-an akibat gagal panen yang terjadi di berbagai negara.
"Ketika hampir seluruh negara mengalami gagal panen, kita tidak bisa lagi bergantung pada impor pangan. Karena itu, akar persoalannya harus diselesaikan sejak sekarang, yaitu bagaimana manusia mengurangi penyebab perubahan iklim sekaligus memperkuat kemampuan adaptasi masyarakat," katanya.
Dwikorita juga menekankan pentingnya strategi mitigasi bencana yang mengombinasikan pemanfaatan teknologi tepat guna dengan kearifan lokal. Ia mencontohkan pengalaman mahasiswa KKN UGM yang melakukan pemetaan daerah rawan bencana bersama masyarakat sekaligus mengidentifikasi kelompok rentan sebagai prioritas dalam upaya perlindungan masyarakat.
Selain itu, ia menilai sistem pendidikan ke depan perlu lebih menekankan pendekatan problem-based learning. Melalui metode tersebut, mahasiswa didorong bekerja sama dengan masyarakat untuk mencari solusi atas berbagai persoalan nyata yang dihadapi di lapangan secara kolaboratif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....