Budaya Generasi Muda Dibawah Pengaruh Algoritma

  • 28 Jun 2026 00:58 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Anak anak jaman sekarang tumbuh di bawah pengaruh kuat teknologi dan algoritma media sosial. Hal ini memunculkan kekhawatiran dari banyak pihak, termasuk budayawan, salah satunya Sigit Triyana, SP.d MM, ketua forum budaya ngaglik dalam satu acara Dialog Pendopo PRO 4 RRI Yogyakarta menyatakan saat ini anak-anak menghabiskan waktu hampir 24 jam bersama gadget mereka. Alih-alih didampingi oleh orang tua atau orang-orang terdekat, mereka justru diasuh oleh konten-konten dari platform media sosial.

"Algoritma ini mengajarkan tentang bahasa, gaya, dan selera baru kepada anak-anak kita. Akibatnya, mereka semakin jauh dari norma, aturan lingkungan, susila, serta nilai sopan santun atau unggah-ungguh yang menjadi akar budaya kita," ujarnya. Sigit mengatakan dominasi budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan lokal membuat anak-anak kesulitan menyaring informasi.

Sigit yang juga anggota Dewan Budaya Sleman menambahkan, saat ini muncul Kekhawatiran bergesernya budaya komunikasi dalam keluarga. Anak-anak sekarang dinilai lebih percaya algoritma dan gadget ketimbang orang tua sendiri. dialog, musyawarah, dan komunikasi yang dulu menjadi pilar keluarga, kini mulai luntur karena anak-anak lebih asyik dengan dunianya sendiri.

Untuk itu Ia berharap orang tua harus melakukan gerakan merebut Kembali peran asuh anak. Orang tua tidak boleh lagi merasa tenang atau senang hanya karena anaknya diam di dalam rumah sambil memegang gawai, tanpa tahu apa yang mereka konsumsi di dunia maya

Sementara Drs. Ki Anton Eknathon, M.Hum, yang juga menjadi narasumber dalam acara terebut melihat fenomena yang terjadi layaknya pisau bermata dua. Ki Anton memperingatkan bahaya kecanduan algoritma. Menurutnya, algoritma dirancang oleh ribuan pemikir dengan tujuan komersial, yang berpotensi mengubah anak-anak menjadi komoditas dan alat pasar semata.

"Anak-anak bisa terjebak selama berjam-jam tanpa terasa, bahkan hingga delapan jam sehari. Kelalaian ini pada akhirnya menggerogoti jiwa dan melemahkan daya pikir kritis mereka. Mereka menjadi malas bergerak/mager dan lambat berpikir," ucapnya.

Meski begitu sebagai seorang sastrawan Ki Anton sepakat bahwa teknologi dan algoritma tidak sepenuhnya berdampak negatif. Algoritma dapat menjadi ceruk yang sangat bermanfaat apabila ditempatkan secara proporsional sebagai alat komunikasi, ruang dialog, dan sarana belajar. Ia menyebut Kuncinya adalah kontrol. Jika bisa mengendalikan media sosial dan tidak berbalik diperalat olehnya, anak-anak justru dapat tumbuh menjadi generasi yang semakin cerdas, kreatif, dan inovatif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....