Kunjungi Pusat Peradaban Melayu Wamendikdasmen Dorong Penguatan Literasi

  • 27 Jun 2026 21:45 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Atip Latipulhayat, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Penyengat, Jumat, 26 Juni 2026. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat pelestarian warisan budaya Melayu serta meneguhkan nilai sejarah, bahasa, dan pendidikan yang tumbuh dari pulau bersejarah itu sebagai pusat peradaban Melayu di nusantara.

Setibanya di Pulau Penyengat, Wamendikdasmen disambut melalui prosesi adat pemasangan tanjak oleh tokoh adat setempat. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus bukti kuatnya tradisi Melayu yang masih terjaga di tengah masyarakat Pulau Penyengat.

Di sela-sela ziarah dan peninjauan situs sejarah, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menyampaikan kekagumannya terhadap warisan intelektual yang ditinggalkan oleh para leluhur di Pulau Penyengat. Ia menekankan akar bahasa nasional dan tradisi literasi Indonesia sejatinya dirawat dari pulau ini.

“Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi bersejarah, melainkan hulu dari bahasa pemersatu kita, bahasa Indonesia, yang berakar kuat dari bahasa Melayu,” kata Wamendikdasmen Atip Latipulhayat.

Usai berziarah, Wamendikdasmen mengunjungi Balai Adat Pulau Penyengat untuk mencicipi air dari sumur bersejarah yang masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Sekaligus melihat silsilah keturunan Raja Ali Haji yang menggambarkan garis kepemimpinan keluarga Kesultanan Riau-Lingga.

Menjelang siang, rombongan melaksanakan Salat Jumat di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat yang menjadi ikon sejarah Pulau Penyengat. Masjid bersejarah yang dibangun tahun 1844 tersebut dikenal memiliki arsitektur khas Melayu dan menggunakan putih telur sebagai bahan perekat bangunannya.

“Masjid ini menjadi bukti sejarah panjang peradaban Islam dan Melayu di Kepulauan Riau,” ucapnya.

Kunjungan kerja ini ditutup dengan meninjau Kutubkhanah Marhum Ahmadi, sebuah perpustakaan kuno yang didirikan oleh Yang Dipertuan Muda Riau ke-X, Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi. Perpustakaan ini menyimpan koleksi manuskrip keagamaan, sastra Melayu, sejarah, dan ilmu pengetahuan abad ke-19, yang menjadi bukti nyata bahwa tradisi membaca, menulis, dan literasi telah tumbuh kuat mengakar di lingkungan Kesultanan Riau-Lingga sejak lama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....