Penanganan Masalah Stunting di Sleman Menyentuh hingga Akar Rumput

  • 26 Jun 2026 18:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Stunting masih menjadi persoalan di Kabupaten Sleman. Sejumlah upaya ditempuh untuk menuntaskan problem stunting bahkan hingga menyentuh ke tingkat akar rumput.

Sebagai bentuk kesiapan operasional di lapangan, Pemkab Sleman telah mengoptimalkan kinerja tenaga lini lapangan di 16 kapanewon. Saat ini, kekuatan struktur pendampingan keluarga di Sleman mencakup Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebanyak 2.088 orang, Bina Keluarga Balita (BKB) sebanyak 212 kelompok dengan 8.345 anggota, dan Bina Keluarga Remaja (BKR) sebanyak 134 kelompok dengan 3.977 anggota. Ada pula Bina Keluarga Lansia (BKL) sebanyak 175 kelompok dengan 4.556 anggota, 16 Sekolah Lansia, dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK R) sebanyak 131 kelompok dengan 2.620 anggota.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kepala BKKBN Wihaji menyebut kader TPK memiliki peran yang krusial pada upaya penurunan angka stunting. Sekaligus berperan dalam mengawal ketahanan keluarga. Wihaji menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk melakukan pengawasan langsung di level akar rumput sesuai instruksi Presiden RI. Jajaran kementerian diminta fokus bekerja mengecek fakta di lapangan daripada menghabiskan waktu pada diskusi formal.

"Saya mendapat perintah dari Bapak Presiden untuk turun ke lapangan. Jangan banyak diskusi, jangan banyak seminar, jangan banyak FGD. Cek lapangan, apakah betul tugas-tugas itu bisa dilaksanakan dengan baik," kata Wihaji saat menemui ratusan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Sleman, di Balai Budaya Tamanmartani, Kalasan, Kamis, 25 Juni 2026.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan pihaknya siap untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dalam rangka mewujudkan pembangunan keluarga yang berkualitas. Danang menambahkan, pihaknya turut mendukung kebijakan kependudukan nasional. Dia menekankan penanganan stunting tidak sekadar persoalan pemenuhan gizi, melainkan berakar pada akurasi data intervensi.

"Stunting bukan sekadar angka. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita. Karena itu verifikasi dan validasi (verval) data menjadi kunci agar intervensi tepat sasaran dan keluarga yang berisiko bisa segera didampingi," ujar Danang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....