Embung Gambut Jadi Kunci Cegah Karhutla, Banyak yang Mulai Mengering

  • 26 Jun 2026 13:34 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Keberadaan embung di lahan gambut dinilai menjadi salah satu infrastruktur penting dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah rawan seperti Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah. Embung berfungsi sebagai cadangan air yang dapat dimanfaatkan tim pemadam saat terjadi kebakaran.

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bahkan menargetkan pembangunan 50 hingga 100 embung di titik-titik rawan karhutla pada 2026. Namun, saat target tersebut diumumkan, pembangunan masih berada pada tahap perencanaan.

Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengaku pihaknya memiliki informasi yang terbatas mengenai pembangunan embung. Menurutnya, terdapat instansi lain yang berwenang membangun sekaligus bertanggung jawab atas pengelolaan embung tersebut.

"Tetapi selama operasi yang kami lakukan, terutama di wilayah Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah, embung-embung ini memang ada, tetapi seiring dengan cuaca yang panas ini, embung itu ada yang kering. Ini juga menjadi persoalan kita sehingga ketika terjadi kebakaran yang ada embungnya dan sumber airnya jauh, mestinya itu dapat dilakukan oleh Satgas darat karena mungkin geografisnya bisa ditempuh," ujar Daniel di Pontianak, Jumat, 26 Juni 2026.

Ia menjelaskan, kondisi embung yang mengering maupun jauhnya sumber air membuat upaya pemadaman dari darat tidak selalu dapat dilakukan secara optimal. Akibatnya, BPBD bersama tim gabungan kerap harus mengerahkan operasi udara menggunakan water bombing.

Padahal, menurut Daniel, water bombing merupakan pilihan terakhir dalam penanganan karhutla. Operasi tersebut idealnya hanya digunakan untuk memadamkan api di lokasi yang tidak dapat dijangkau personel maupun kendaraan darat.

"Tetapi persoalannya karena sumber airnya jauh, terpaksa BPBD dan tim menggunakan operasi udara dengan water bombing, meskipun water bombing itu sebenarnya operasi terakhir. Karena water bombing ini sebenarnya hanya digunakan untuk lokasi yang sulit dijangkau oleh pejalan kaki, mobil, dan motor, tetapi karena jauh dari sumber air biasanya terpaksa digunakan," katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya ketersediaan embung yang tetap terisi air, terutama di kawasan gambut yang menjadi salah satu wilayah paling rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau. Selain pembangunan embung baru, pengelolaan dan pemeliharaan embung yang sudah ada juga menjadi faktor penting agar fungsinya tetap optimal ketika terjadi karhutla.

Baca juga: BPBD Kalbar Perkuat Antisipasi Karhutla Hadapi Musim Kemarau

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....