Kuda Siger Debut Perdana, Simbol Harmoni Budaya Jawa dan Lampung

  • 26 Jun 2026 07:22 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pringsewu - Ribuan masyarakat yang memadati Pendopo Kabupaten Pringsewu pada Kamis 25 Juni 2026 malam dibuat terpukau dengan penampilan perdana Kuda Siger, satu di antara kesenian hasil akulturasi budaya Jawa dan Lampung yang diinisiasi Kapolres Pringsewu AKBP M. Yunnus Saputra. Penampilan tersebut menjadi salah satu sajian utama dalam Pagelaran Budaya Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar Polres Pringsewu.

Di tengah dominasi kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo, Pegon, Banyumasan, dan kuda kepang, kemunculan Kuda Siger menghadirkan warna baru yang langsung menyita perhatian penonton. Kesenian ini lahir dari perpaduan dua budaya besar yang hidup berdampingan di Kabupaten Pringsewu.

Unsur kuda kepang yang identik dengan budaya Jawa dipadukan dengan simbol-simbol budaya Lampung, terutama siger yang selama ini dikenal sebagai mahkota adat dan lambang kehormatan masyarakat Lampung. Tak hanya tampak pada bentuk properti yang digunakan para penari, unsur budaya Lampung juga hadir melalui kostum, ornamen, filosofi pertunjukan, hingga tata gerak yang memadukan karakter budaya Jawa dan Lampung dalam satu kesatuan pertunjukan.

Kapolres Pringsewu AKBP M. Yunnus Saputra mengatakan, ide tersebut muncul dari keinginannya menghadirkan sebuah karya budaya yang mencerminkan kondisi sosial masyarakat Pringsewu yang majemuk. Menurutnya, masyarakat Pringsewu selama puluhan tahun hidup dalam harmoni antara berbagai suku dan budaya, terutama Jawa dan Lampung yang menjadi dua unsur budaya dominan di daerah tersebut.

“Kalau kuda kepang khas Jawa Timur mungkin sudah biasa kita lihat. Tetapi ketika dipadukan dengan simbol siger dan nilai-nilai budaya Lampung, itu menjadi sesuatu yang baru dan memiliki identitas tersendiri,” ujarnya.

Sebagai putra Jawa Timur, Yunnus mengaku terinspirasi dari kesenian kuda kepang yang berkembang di daerah asalnya. Namun ia melihat Pringsewu memiliki kekayaan budaya yang unik dan layak diwujudkan dalam sebuah karya kolaboratif. Menurutnya, akulturasi budaya bukan berarti menghilangkan identitas masing-masing budaya, melainkan mempertemukan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat untuk melahirkan karya baru yang tetap menghormati akar budayanya.

Penampilan Kuda Siger juga diperkuat dengan kehadiran tujuh penari yang mengenakan kostum dengan tujuh warna berbeda. Warna-warna tersebut menggambarkan perjalanan nilai kehidupan dan filosofi keseimbangan yang diwariskan para leluhur, sekaligus menjadi simbol keberagaman yang dapat hidup berdampingan dalam harmoni.

Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, menyambut baik hadirnya kesenian tersebut. Menurutnya, kolaborasi budaya Jawa dan Lampung yang ditampilkan malam itu menjadi simbol bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan perekat persatuan masyarakat.

“Seni kuda kepang yang dihidupkan masyarakat Jawa berpadu dengan kekayaan budaya Lampung sebagai identitas daerah. Ini menjadi simbol bahwa perbedaan bukanlah pemisah, tetapi perekat persatuan,” kata Riyanto.

Lebih jauh, Yunnus menjelaskan bahwa lahirnya Kuda Siger juga merupakan bagian dari konsep cultural policing yang selama ini dikembangkan Polres Pringsewu. Melalui pendekatan budaya, Polri ingin membangun kedekatan emosional dengan masyarakat, memperkuat nilai-nilai persatuan, sekaligus menghadirkan ruang interaksi yang positif dan produktif.

“Masyarakat dan polisi itu sebenarnya satu. Kami hanya mengenakan seragam saat bertugas. Melalui budaya, kita bisa bertemu, berdialog, dan membangun kebersamaan,” ujarnya.

Dengan debut perdananya tersebut, Kuda Siger diharapkan tidak hanya menjadi atraksi seni dalam peringatan Hari Bhayangkara, tetapi juga berkembang menjadi ikon budaya baru yang merepresentasikan wajah Pringsewu sebagai daerah yang tumbuh dari keberagaman, persaudaraan, dan semangat gotong royong.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....