Menteri ESDM Resmikan PT SAG Tuban, Wujud Penguatan Ketahanan Energi

  • 25 Jun 2026 19:55 WIB
  •  Tuban

‎RRI.CO.ID, Tuban - PT Sumber Aneka Gas (SAG), anak perusahaan PT Super Energy Tbk., resmi mengoperasikan fasilitas Mini Liquefied Natural Gas (LNG) Plant di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis 25 Juni 2026. Peresmian proyek strategis ini dilakukan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia bersama Kepala SKK Migas.

‎‎Peresmian ini juga sebagai wujud nyata dukungan terhadap penguatan ketahanan energi serta percepatan transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan. Fasilitas yang menelan investasi senilai Rp1,1 triliun ini dirancang untuk mengolah gas bumi sebesar 15 MMSCFD yang bersumber dari Lapangan Sumber 1-A, yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java.

‎‎Masa operasional pengaliran gas ini diproyeksikan berlangsung hingga tahun 2036 mendatang. Fasilitas ini juga memiliki fleksibilitas produksi yang mumpuni, LNG diproyeksikan maksimal 55.300 ton per tahun, LPG maksimal 9.800 ton per tahun.

‎‎Sementara Kondensat, maksimal 19.600 barel per tahun, dan CNG Plant dengan Kapasitas 6 MMSCFD. Selanjutnya, produk LNG yang dihasilkan akan didistribusikan secara luas ke berbagai wilayah di Indonesia, mencakup Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga ke luar Pulau Jawa.

‎‎Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berdampak pada pasokan energi, setiap negara kini dituntut untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam domestik secara maksimal. Indonesia, yang selama ini memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG), mulai mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

‎‎Data menunjukkan bahwa kebutuhan konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi dalam negeri masih terbatas, yakni di bawah 1,9 juta ton per tahun. Kondisi ini memaksa Indonesia untuk mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahunnya.

‎‎"Oleh karena itu, kehadiran PT Sumber Aneka Gas ini menjadi angin segar bagi pelaku industri nasional. Perusahaan ini berperan vital dalam memberikan kepastian pasokan bahan baku gas di tengah gejolak pasar internasional," ujarnya.

‎‎Ketergantungan terhadap pasar luar negeri ini juga memberikan tekanan signifikan bagi devisa negara. Dengan peningkatan nilai In-Country Value (ICV) di atas 90, estimasi dana yang terserap untuk impor LPG diperkirakan mencapai Rp150 triliun, meningkat dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp120 triliun.

‎‎Selain itu, beban subsidi pemerintah untuk sektor LPG juga tercatat cukup besar, yakni mencapai Rp80 hingga Rp90 triliun per tahun. Harapannya, PT. SAG mampu menekan ketergantungan terhadap impor, menjaga stabilitas harga di tingkat industri, serta memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tantangan energi global.

‎‎Sementara itu, Direktur Utama SAG, Agustus Sani Nugroho, menegaskan bahwa operasional mini plant ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk mendukung agenda pemerintah. Kehadiran teknologi LNG ini juga menjadi solusi krusial bagi sektor industri yang berada di luar jangkauan jaringan pipa gas konvensional maupun fasilitas Compressed Natural Gas (CNG).

‎‎"Kami siap mendukung program Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional. Langkah ini merupakan bentuk komitmen kami dalam memperkuat ketahanan energi serta memastikan industri nasional memiliki akses pasokan energi yang andal dan bersih," ujar Agustus.

‎‎Senada dengan upaya transisi energi, penggunaan LNG diharapkan mampu mendukung target dekarbonisasi nasional. Selain itu, optimalisasi gas domestik ini diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap impor LPG, sekaligus memberikan nilai tambah bagi ekonomi nasional melalui pengembangan industri hilir migas.

‎‎PT Super Energy Tbk. sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam industri gas alam, dimulai dari distribusi di Jawa Timur pada tahun 2012, ekspansi ke Jawa Tengah dan Jawa Barat, hingga masuk ke bisnis pengolahan flare gas pada tahun 2016. Kesuksesan tersebut membawa perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018.

‎‎Kehadiran proyek ini tidak hanya membawa dampak positif pada sektor energi saja. Namun, juga memberikan kontribusi ekonomi bagi daerah melalui penyerapan tenaga kerja mencapai 330 orang, baik pada tahap konstruksi hingga operasional.

‎‎Atas capaian ini, SAG menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kementerian ESDM, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Tuban, SKK Migas, serta seluruh mitra strategis yang telah terlibat. Ke depan, SAG dan PT Super Energy Tbk. berkomitmen untuk terus berinvestasi dalam infrastruktur energi guna mendukung pembangunan ekonomi Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....