Disperta Gencarkan Pencegahan Hama Wereng dan Tungro di Wilayah Rawan

  • 24 Jun 2026 21:18 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang mengintensifkan upaya pencegahan serangan hama wereng hijau dan penyakit tungro di sejumlah wilayah yang dinilai rawan. Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) akibat perubahan cuaca dan pola tanam padi yang berlangsung terus-menerus.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno. Di kawasan tersebut, sekitar 60 hektare lahan persawahan berpotensi terdampak serangan wereng hijau yang dikenal sebagai vektor penyebar virus tungro pada tanaman padi.

Kepala Dinas Pertanian Jombang Moch Rony melalui Kepala Bidang Perlindungan, Pascapanen, dan Pemasaran Hasil Pertanian, Ahmad Jani Masyhudi, mengatakan kondisi cuaca yang berubah-ubah dalam beberapa bulan terakhir menjadi faktor yang mendukung perkembangan hama dan penyakit tanaman.

"Perubahan kondisi cuaca saat ini perlu diwaspadai oleh petani karena dapat mempercepat perkembangan organisme pengganggu tanaman. Oleh karena itu, kami terus memperkuat sosialisasi dan pendampingan agar produktivitas pertanian tetap terjaga," kata Jani, Rabu, 24 Juni 2026.

Menurutnya, tingkat kerawanan serangan tungro meningkat setelah sebagian petani mulai menerapkan pola tanam padi tiga kali setahun atau padi-padi-padi sejak 2025. Sebelumnya, petani lebih banyak menerapkan pola tanam yang diselingi komoditas lain seperti jagung, kedelai, maupun masa bera.

"Jika lahan terus ditanami padi tanpa pergiliran tanaman, peluang berkembangnya hama dan penyakit akan semakin besar. Karena itu, pengelolaan budidaya perlu dilakukan secara lebih baik agar risiko tersebut dapat ditekan," ujarnya.

Selain pola tanam, penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan populasi wereng hijau. Kondisi tersebut dapat memperbesar peluang penyebaran virus tungro yang berpotensi menurunkan hasil panen.

Sebagai langkah antisipasi, Disperta terus mendorong penerapan Budidaya Tanaman Sehat (BTS) dan pengembangan Pos Pelayanan Agens Hayati (PPAH) di berbagai wilayah pertanian. Program tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sekaligus meningkatkan penggunaan pupuk organik dan agens hayati.

Penyakit tungro sendiri dapat menyebabkan penurunan produktivitas padi secara signifikan, bahkan berisiko menimbulkan gagal panen apabila tidak segera dikendalikan. Karena itu, Disperta menggencarkan edukasi kepada petani di sejumlah daerah rawan, termasuk Kecamatan Mojowarno, Mojoagung, dan Sumobito.

Dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di area persawahan Desa Latsari dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat, petani diberikan pemahaman mengenai gejala serangan wereng hijau, siklus hidup hama, hingga teknik pengendalian yang ramah lingkungan.

Selain itu, petani juga diajak mengembalikan kesuburan tanah melalui pemanfaatan pupuk organik, mikroorganisme lokal (MOL), dan pelestarian musuh alami hama. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah penggunaan pias trichograma untuk membantu mengendalikan penggerek batang padi.

"Petani sebaiknya tidak membakar jerami setelah panen. Jerami dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki kondisi tanah. Dengan budidaya yang lebih sehat, hasil panen dapat ditingkatkan sekaligus mengurangi risiko serangan hama dan penyakit tanaman," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....