Kalah Saing dengan Ojol, Sopir Angkot Putar Otak demi Dapur Ngebul
- 11 Jun 2026 10:34 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID Bandarlampung : Eksistensi Angkutan Kota (Angkot) kini kian tergerus di tengah pesatnya perkembangan transportasi modern. Sejumlah sopir angkot mengeluhkan kondisi penumpang yang semakin sepi, yang memicu penurunan pendapatan secara drastis. Saat ini, hanya tersisa beberapa trayek saja yang terpantau masih bertahan dan beroperasi di jalanan.
Sepinya penumpang ini diakui terjadi akibat pergeseran gaya hidup masyarakat yang kini lebih memilih beralih menggunakan layanan Ojek Online (Ojol) karena dinilai lebih praktis dan cepat. Kondisi ini memaksa para sopir angkot untuk memutar otak demi bisa memenuhi uang setoran harian dan memastikan dapur rumah tangga mereka tetap mengebul.
Bahtiar, salah seorang sopir angkot yang masih bertahan, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah penumpang yang paling parah dirasakan sejak pasca-pandemi COVID-19. Pola mobilitas masyarakat yang berubah membuat angkot seringkali berkeliling dalam kondisi kosong tanpa penumpang.
"Semenjak pasca-COVID-19, penumpang sepi sekali karena orang-orang sudah hampir semua beralih ke ojol. Kondisi ini membuat kami harus putar otak, bagaimana caranya setoran bisa ketutup dan dapur di rumah bisa tetap ngebul," ujar Bahtiar dengan raut wajah lesu.
Menghadapi situasi pelik ini, Bahtiar dan rekan-rekannya tidak bisa lagi menggunakan cara lama dengan sekadar berkeliling kota seharian mencari penumpang. Jika memaksakan diri terus berkeliling, pendapatan yang didapat sama sekali tidak sebanding dengan biaya operasional, terutama untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM).
Sebagai strategi bertahan hidup, Bahtiar kini harus hafal dan memanfaatkan jam-jam sibuk tertentu. Ia hanya akan beroperasi penuh pada waktu-waktu di mana potensi penumpang masih ada.
"Strateginya sekarang kami harus pintar-pintar tahu jam sibuk. Misalnya waktu pagi saat anak-anak berangkat sekolah atau siang saat mereka pulang sekolah. Selain itu, kami juga harus hafal waktu subuh, saat pedagang-pedagang hendak pergi ke pasar," jelas Bahtiar.
Ia menambahkan, pada waktu subuh tersebut, rata-rata sopir angkot termasuk dirinya sudah memiliki langganan tetap di kalangan para pedagang pasar. Setelah jam-jam sibuk tersebut lewat, Bahtiar memilih untuk memarkirkan kendaraannya dan hanya beroperasi pada waktu tertentu saja.
Langkah membatasi jam operasional ini terpaksa diambil sebagai satu-satunya jalan keluar agar pengeluaran untuk membeli bahan bakar tidak membengkak dan membuat mereka merugi di akhir hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....