Ghibah Penyakit Sosial yang Berbahaya

  • 02 Jun 2026 06:28 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain menjadi salah satu penyakit sosial yang perlu diwaspadai oleh setiap muslim. Selain merusak hubungan antarsesama, perbuatan tersebut juga dapat menambah beban dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia.

Dalam Kajian Islami program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Selasa, 2 Juni 2026, Dai Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya, Ustaz Rimun mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan menjauhi prasangka buruk yang dapat memicu munculnya ghibah. Menurut Ustad Rimun, Allah SWT telah mengingatkan umat Islam agar tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak menggunjing sesama.

"Sebagian besar dari kita memiliki prasangka buruk dan itu termasuk dosa. Karena itu Allah mengingatkan agar kita menjauhi prasangka, tidak mencari kesalahan orang lain, serta mengurangi ghibah agar dosa-dosa kita juga berkurang," ujarnya dalam tausiyah pagi tadi.

Peringatan tersebut termaktub dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain."

Dalam ayat yang sama, lanjut ustad Rimun, Allah SWT mengibaratkan perbuatan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia, sebagai gambaran betapa tercelanya perbuatan tersebut. Ustaz Rimun menjelaskan, ghibah kerap dianggap sebagai kesalahan ringan dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, menurutnya, kebiasaan tersebut dapat merusak persaudaraan, memicu konflik, dan mengurangi keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menambahkan bahwa dosa yang berkaitan dengan sesama manusia membutuhkan penyelesaian yang lebih berat dibandingkan dosa yang hanya berkaitan dengan hubungan seorang hamba kepada Allah SWT.

"Kalau dosa kepada Allah, kita bisa memohon ampun dan bertaubat dengan sungguh-sungguh. Tetapi jika menyangkut sesama manusia, maka harus diselesaikan juga dengan orang yang bersangkutan," katanya.

Sebagai upaya menghindari ghibah, Ustad Rimun mengajak umat Islam untuk memperbanyak dzikir dan senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitas. Menurutnya, hati yang dekat dengan Allah akan lebih mudah menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 191 yang menjelaskan bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang senantiasa mengingat Allah ketika berdiri, duduk, maupun berbaring. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR Bukhari dan Muslim).

Melalui tausiyah tersebut, Ustad Rimun mengajak masyarakat untuk membiasakan menjaga lisan, memperkuat dzikir, dan menghindari prasangka buruk agar tercipta kehidupan yang harmonis serta terhindar dari perbuatan ghibah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....