Isa Anshori Ungkap Faktor Penyebab Rendahnya Capaian TKA

  • 02 Jun 2026 00:01 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP pada mata pelajaran Bahasa Indonesia serta Matematika yang dinilai rendah tidak dapat dilihat semata-mata dari capaian angka. Ketua DPP Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia (KPPRAI), Isa Anshori, ikut memberikan komentarnya.

Isa Anshori menyebut berbagai faktor mendasar dalam sistem pendidikan disebut turut memengaruhi hasil tersebut. TKA pada dasarnya mengukur kemampuan akademik dasar peserta didik, terutama dalam aspek numerasi, logika, dan algoritma.

"Hasil TKA itu sebetulnya mengukur kemampuan akademis, numerasi, logika, dan algoritma. Sehingga berkaitan dengan kemampuan dasar anak-anak untuk berpikir logis dan hubungannya dengan problem-problem akademis," ujarnya, Senin, 1 Juni 2026.

Menurut Isa, capaian yang belum memenuhi harapan tidak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan yang memengaruhi kualitas pembelajaran. Karena itu, hasil TKA perlu dibaca secara lebih komprehensif.

"Problem akademis itu ada banyak penyebabnya. Kenapa kemudian tidak memenuhi standar seperti yang kita harapkan, seperti negara-negara lain, saya kira banyak variabel yang mempengaruhi," katanya.

Ia menilai salah satu faktor utama adalah belum meratanya akses pendidikan di berbagai daerah. Kondisi pendidikan di perkotaan dan pedesaan masih menghadapi tantangan yang berbeda, baik dari sisi sarana maupun dukungan pembelajaran.

"Yang pertama tentang pemerataan akses pendidikan. Semua akses pendidikan itu harus sama, antara kota dan desa, atau daerah satu dengan daerah yang lain," katanya.

Isa menambahkan, pengukuran kemampuan peserta didik pada level nasional, seperti yang dilakukan dalam Programme for International Student Assessment (PISA), harus mempertimbangkan keragaman kondisi daerah. Perbedaan infrastruktur pendidikan dan proses pembelajaran menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan.

"PISA mengukurnya secara nasional. Kalau kemudian di tingkat provinsi atau kabupaten/kota diukur tanpa membedakan infrastrukturnya seperti apa dan proses belajarnya seperti apa, maka muncullah angka yang kita saksikan hari ini," ujarnya.

Menurutnya, hasil TKA yang dianggap rendah seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Fokus perbaikan tidak hanya pada peserta didik, tetapi juga pada pemerataan kualitas layanan pendidikan.

"Angka yang muncul hari ini tidak memenuhi harapan, sehingga ada yang mengatakan hasilnya jeblok. Namun, yang lebih penting adalah melihat faktor-faktor yang menyebabkan kondisi tersebut," kata Isa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....