Tak Sekadar Lukisan, Yoga Simpan Cerita Hidup di Setiap Karyanya

  • 21 Mei 2026 13:43 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Perjalanan menjadi seniman tidak selalu lahir dari ruang galeri atau pendidikan formal seni. Hal itu tergambar dari kisah Yoga Ilhamsyah, seniman muda asal Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yang dikenal melalui media sosial dengan nama Yogawildbornean. Dalam perjalanannya, Yoga mengaku menemukan kecintaannya pada seni dari pengalaman hidup di jalanan hingga eksplorasi budaya di berbagai daerah.

Yoga menceritakan, minatnya terhadap seni rupa telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia kerap membuka kembali buku pelajaran seni budaya untuk melihat karya pelukis besar Indonesia. “Dari SD aku suka ngebolak-balik buku pelajaran seni budaya, melihat lukisan Affandi, Raden Saleh, sambil ngomong dalam hati, kapan ya bisa melukis di kanvas kayak gini,” ujarnya, Senin, 18 Mei 2026.

Perjalanan kreatifnya semakin berkembang ketika masa muda banyak dihabiskan di jalanan. Dari sana, Yoga mulai tertarik dengan visual mural, grafiti, hingga desain artwork rilisan merchandise band metal yang menurutnya memiliki daya tarik artistik tersendiri. Ketertarikannya itu membuat Yoga lebih memilih medium tembok untuk berkarya. “Aku lebih sering mural karena sebagian besar belajar di tembok. Medianya lebih besar dan lebih challenging,” katanya.

Dalam proses belajar, Pontianak menjadi salah satu kota yang memberikan ruang penting bagi perkembangan kemampuan melukisnya. Di kota ini, Yoga bertemu sejumlah senior yang memberinya kesempatan menggunakan alat-alat melukis untuk belajar lebih dalam mengenai teknik seni rupa.

Lukisan pertamanya di atas kanvas dibuat pada tahun 2017 dengan objek orang utan. Sejak saat itu, Yoga mulai aktif mengeksplorasi berbagai tema dalam karya, mulai dari lanskap alam, manusia, hewan, isu lingkungan, hingga budaya lokal yang menjadi sumber inspirasinya.

Salah satu karya yang paling berkesan bagi Yoga adalah interpretasi ulang lukisan “The Last Supper” karya Leonardo da Vinci dengan sentuhan budaya Nias. Dalam karya tersebut, tokoh-tokoh digambarkan mengenakan pakaian adat Nias sebagai bentuk inkulturasi budaya. “Di situ aku merasa senang karena bisa giving back to society, sebab lukisan itu dilelang untuk pembangunan gereja di Jakarta,” ungkapnya.

Selain berkarya secara mandiri, Yoga juga aktif mengikuti berbagai pameran seni, baik di Pontianak maupun daerah lain di luar Kalimantan Barat. Pengalamannya menjelajahi berbagai wilayah di Sumatra juga turut memperkaya perspektif artistiknya. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat berada di Nias, yang menurutnya menjadi momen mengenal diri sendiri lebih dalam.

Di akhir perbincangan, Yoga berharap semakin banyak anak muda tertarik menekuni seni, khususnya mural, dengan akses belajar yang lebih mudah. Ia juga berpesan agar generasi muda tidak takut untuk memulai. “Kadang kita terlalu banyak berpikir di kepala kita. Gas dulu aja. Jangan bandingkan diri kita sama orang lain, tapi bandingkan diri kita dengan kita yang kemarin,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....