Warisan Sastra Jawa Hidupkan Kisah Sultan Agung

  • 21 Mei 2026 13:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, warisan sastra Jawa seperti Serat Centhini tetap menjadi ruang pembelajaran sejarah, budaya, dan nilai kehidupan masyarakat Nusantara. Melalui siaran Macapat Rabu 20 Mei 2026, pendengar diajak memahami perjalanan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma yang mengutus Ki Alap-Alap untuk menjemput Pangeran Pekik di Surabaya agar menghadap ke Kerajaan Mataram.

Ki Al Faris Suwondo Saputro, Kasi Umum Yayasan Macapat Among Tani Mojopahit Trowulan Mojokerto, menjelaskan, kisah tersebut menjadi bagian penting dalam Serat Centhini Jilid 1 yang menggambarkan hubungan politik dan budaya antara Surabaya dan Mataram.

Ia menyebut penaklukan Surabaya oleh Mataram sekitar tahun 1625 membawa perubahan besar terhadap kekuasaan di wilayah pesisir timur Jawa.

Menurut Ki Al Faris, setelah Surabaya berhasil ditaklukkan, Pangeran Pekik dibawa ke pusat pemerintahan Mataram sebagai bentuk penguatan hubungan politik. “Sultan Agung kemudian menikahkan Pangeran Pekik dengan Ratu Pandansari agar hubungan kekerabatan semakin erat dan perlawanan di wilayah pesisir dapat diredam,” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah tersebut tidak hanya bernilai politik, tetapi juga memperlihatkan strategi diplomasi budaya Kerajaan Mataram pada masa itu. “Dari kisah ini kita bisa melihat bagaimana kerajaan membangun persatuan melalui pendekatan keluarga dan budaya,” katanya.

Dalam siaran itu, pendengar juga aktif berinteraksi melalui sambungan telepon menanyakan isi kidung Mantrawedha, khususnya kalimat yang sering diperdebatkan yakni “Maling Arto” atau “Maling Ardha”. Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh narasumber dengan penjelasan makna bahasa Jawa kuno yang terkandung di dalamnya.

Ki Al Faris menegaskan, kalimat yang benar dalam kidung Rumeksa Ing Wengi adalah “Maling Ardha”. “Maling Ardha memiliki arti seseorang yang mempunyai nafsu atau tekad kuat untuk mencuri, sedangkan Maling Arto lebih mengarah pada pencurian harta atau uang,” jelasnya.

Kidung Rumeksa Ing Wengi sendiri dikenal masyarakat Jawa sebagai tembang yang berisi doa perlindungan dari berbagai mara bahaya. Dalam penggalan tembang disebutkan, “Maling Arda tan ana ngarah ing mami, tuju guna pan sirna,” yang bermakna segala niat buruk tidak akan mendekat kepada diri seseorang.

Melalui pembahasan Serat Centhini dan kidung Jawa tersebut, siaran Macapat tidak hanya menjadi media pelestarian budaya, tetapi juga sarana edukasi lintas generasi. Pendengar diajak memahami bahwa sastra tradisional tetap relevan sebagai sumber nilai moral, spiritual, dan sejarah di tengah perkembangan zaman modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....