Hasil Tangkapan Anjlok dan Solar Subsidi Langka, Nelayan Pantura Terancam Tak Mela

  • 16 Mei 2026 11:44 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Hasil Tangkapan Anjlok dan Solar Subsidi Langka, Nelayan Pantura Terancam Tak Melaut
  • Harga Solar Nonsubsidi Naik

RRI.CO.ID, Pekalongan - Nasib nelayan tradisional di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah kian terjepit. Selain hasil tangkapan ikan yang merosot tajam akibat cuaca buruk, nelayan juga kesulitan mendapatkan solar subsidi.

Kondisi tersebut membuat banyak nelayan di wilayah Pemalang hingga Kabupaten Pekalongan memilih mengurangi aktivitas melaut, bahkan menghentikan sementara operasional kapal mereka. Pantauan di Pelabuhan Perikanan Tanjungsari, Pemalang, Sabtu 16 Mei 2026,

Ratusan kapal nelayan tampak bersandar di dermaga tanpa aktivitas bongkar muatan hasil laut. Suasana yang biasanya ramai terlihat lengang.

Sejumlah anak buah kapal hanya membersihkan geladak dan memperbaiki peralatan melaut. Aktivitas di TPI Tanjungsari juga tampak sepi, hanya beberapa pedagang yang menjual hasil tangkapan seadanya seperti cumi-cumi dan tongkol.

Nelayan setempat, Surip mengatakan, hasil tangkapan ikan dalam dua hari terakhir turun drastis. Jika biasanya ia mampu membawa pulang 10 hingga 15 basket ikan per hari, kini hanya memperoleh 1 sampai 2 basket.

Menurutnya, cuaca yang tidak bersahabat menjadi penyebab utama menurunnya hasil tangkapan nelayan. Gelombang tinggi dan perubahan angin membuat banyak nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.

“Biasanya bisa dapat belasan basket, sekarang paling satu atau dua basket saja. Cuaca juga buruk, jadi banyak yang memilih libur melaut,” ujarnya.

Tekanan serupa juga dirasakan nelayan di wilayah Kabupaten Pekalongan. Selain hasil tangkapan yang minim, mereka kini menghadapi langkanya solar subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dan terpaksa harus membeli solar nonsubsidi yang harganya dinilai sangat memberatkan.

Pantauan di Pelabuhan Perikanan Pantai Wonokerto, aktivitas nelayan memang masih berjalan. Namun nelayan mengaku kondisi tersebut hanya bertahan sementara karena mereka masih mengandalkan solar subsidi yang dijual Rp230 ribu per jerigen berisi 35 liter.

Masalahnya, stok solar subsidi di SPBN nelayan kerap kosong selama berhari-hari. Akibatnya, nelayan terpaksa membeli solar nonsubsidi dengan harga umum yang kini mencapai Rp30 ribu per liter.

Nelayan menilai lonjakan harga solar nonsubsidi dari sebelumnya Rp17 ribu menjadi Rp30 ribu per liter membuat biaya operasional melaut semakin tinggi dan tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang terus menurun.

Disampaikan nelayan setempat, Tarmu, Kondisi tersebut membuat nelayan kecil terancam berhenti melaut jika tidak ada solusi dari pemerintah.

“Kalau solar nonsubsidi mahal terus dan solar subsidi sering kosong, nelayan kecil bisa tidak melaut. Hasil ikan sekarang juga tidak menutup biaya operasional,” katanya.

Nelayan Pantura berharap pemerintah segera turun tangan dengan menjamin ketersediaan solar subsidi di SPBN serta mengkaji ulang harga BBM nonsubsidi khusus nelayan. Jika tidak, aktivitas perikanan tradisional di pesisir utara Jawa dikhawatirkan semakin lumpuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....