PHBS Penting Cegah Hantavirus

  • 13 Mei 2026 14:38 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Guru Besar Vaksinologi dan Epidemiologi Veteriner Universitas Airlangga, Prof. Chairul Anwar Nidom mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS sebagai langkah penting mencegah hantavirus. Menurutnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan.

Dalam Dialog Aspirasi Pro 1 RRI Surabaya, Rabu 13 Mei 2026, Prof. Nidom menjelaskan hantavirus bukan virus baru karena telah lama ditemukan di sejumlah negara. Virus tersebut termasuk penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus kepada manusia.

“Hantavirus ini sebenarnya bukan virus baru. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perkembangan virusnya, apakah terjadi mutasi dan bagaimana pola penularannya,” kata Prof. Nidom.

Ia menjelaskan, penularan hantavirus umumnya terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup manusia dalam bentuk partikel di udara. Sejumlah negara hingga kini juga masih melakukan penelitian terkait kemungkinan perubahan karakter virus dan pola penularannya.

Menurutnya, beberapa jenis hantavirus memiliki tingkat fatalitas yang dapat mencapai sekitar 38 hingga 40 persen. Hingga saat ini juga belum tersedia obat maupun vaksin spesifik untuk menangani infeksi hantavirus secara luas.

Prof. Nidom menilai Indonesia memiliki potensi munculnya kasus hantavirus apabila masyarakat tidak menjaga kebersihan lingkungan dengan baik. Keberadaan tikus di lingkungan permukiman serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dinilai menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian serius.

“Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan masih kurang. Padahal menjaga kebersihan lingkungan dan pola hidup sehat menjadi kunci penting untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk hantavirus,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pengalaman pandemi COVID-19 seharusnya menjadi pelajaran penting agar masyarakat lebih disiplin menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Menurutnya, kebiasaan mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, menjaga sanitasi, hingga mengendalikan keberadaan tikus perlu terus dibiasakan.

“Pelajaran dari COVID-19 seharusnya membuat masyarakat lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan. Virus apa pun akan lebih mudah dicegah jika masyarakat disiplin menerapkan PHBS,” katanya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, Prof. Nidom juga mengingatkan pentingnya mengenali gejala hantavirus sejak dini. Gejala awal umumnya meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga gangguan pernapasan pada kondisi yang lebih berat. Ia mengatakan, masyarakat juga perlu memahami langkah pencegahan seperti menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menjaga kebersihan rumah, serta memastikan lingkungan tetap bersih dan sehat.

Selain itu, Prof. Nidom juga mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh. Menurutnya, Indonesia yang kaya rempah-rempah dan tradisi jamu dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Prof. Nidom mengatakan, masyarakat perlu memahami karakter virus dan kondisi lingkungan di sekitarnya agar dapat menentukan langkah pencegahan yang tepat. Kesadaran menjaga kesehatan dan lingkungan dinilai menjadi pertahanan utama menghadapi berbagai ancaman penyakit, termasuk hantavirus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....