FX Rudy: Kegagalan Thomas Cup Harus Jadi Momentum Evaluasi Nasional

  • 06 Mei 2026 21:17 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kegagalan tim beregu putra Indonesia dalam ajang Thomas Cup 2026 memicu keprihatinan mendalam dari Ketua PBSI Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo. Prestasi nasional yang kini dinilai merosot tajam dianggap belum mampu memenuhi harapan besar masyarakat sebagai salah satu kekuatan utama bulu tangkis dunia.

Kritik tajam ini muncul setelah Rudy membandingkan jomplangnya pencapaian tim putra dengan tim Uber Cup yang sukses menembus babak semifinal. Baginya, Indonesia harus segera bangkit untuk melahirkan kembali legenda-legenda besar yang mampu mendominasi podium juara seperti pada era keemasan masa lalu.

"Ini mestinya menjadi keprihatinan seluruh bangsa untuk meningkatkan kembali prestasi. Kita harus mengutamakan anak-anak usia dini untuk diberi panggung," ujar Rudy di sela penutupan Kejurkot PBSI Solo, Rabu 6 Mei 2026.

Sebagai langkah konkret menghadapi lesunya prestasi, PBSI Solo kini tengah menyiapkan rangkaian turnamen berjenjang termasuk agenda Piala Ketua PBSI Solo. Kejuaraan ini dirancang khusus untuk menjaring talenta muda yang selama ini belum terpantau oleh klub-klub besar agar memiliki kesempatan tampil di level kompetisi.

Selain inisiatif turnamen, Rudy juga menyuarakan kritik membangun bagi jajaran pengurus pusat mengenai pentingnya sinergi dan pembinaan yang berkelanjutan. Ia menyoroti pengetatan regulasi sponsor rokok yang secara tidak langsung memberikan dampak negatif terhadap stabilitas pendanaan prestasi bulu tangkis nasional.

"Regulasi sponsor rokok yang diperketat berdampak signifikan terhadap penurunan drastis prestasi bulu tangkis nasional kita saat ini," ucap mantan Wali Kota Solo tersebut.

Sisi lain yang menjadi sorotan adalah mahalnya biaya operasional olahraga bulu tangkis yang kini mulai sulit dijangkau oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Rudy mendesak adanya campur tangan negara agar pembinaan atlet usia dini tidak lagi terganjal oleh hambatan finansial yang memberatkan orang tua.

Ia berharap melalui panggung kompetisi lokal yang terbuka lebar, mata rantai regenerasi atlet nasional tidak akan terputus dan justru semakin kuat. Kehadiran organisasi dan pemerintah secara nyata menjadi kunci utama agar bibit unggul dari pelosok daerah tetap bisa berkembang secara maksimal.

"Negara dan pengurus harus hadir agar bibit muda dari berbagai kalangan tidak terbeban biaya tinggi dalam mengembangkan potensi mereka," ujar Rudy.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....