Jaringan Narkoba Sasar Generasi Muda, Ini Faktanya
- 06 Mei 2026 20:17 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Generasi muda jadi target utama jaringan narkoba
- Penyalahgunaan narkotika Indonesia capai 3,3 juta jiwa
- Usia 15–24 tahun paling rentan terpapar narkoba
- Lingkungan sosial kuat pengaruhi keterlibatan remaja
- Pencegahan perlu edukasi, penindakan, dan rehabilitasi
RRI.CO.ID, Surabaya – Pembina Yayasan Orbit Surabaya sekaligus praktisi rehabilitasi narkotika, Rudhy Wedhasmara, menilai generasi muda menjadi kelompok paling rentan dimanfaatkan dalam jaringan peredaran narkoba di Indonesia.
Hal ini disampaikan Rudhy dalam dialog bersama RRI Surabaya, Rabu, 6 Mei 2026 menyikapi masih tingginya angka penyalahgunaan narkotika, termasuk temuan kasus kokain di Jawa Timur.
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia mencapai sekitar 1,73 persen atau setara lebih dari 3,3 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, tren peningkatan didominasi kelompok usia 15 hingga 24 tahun, yang menunjukkan tingginya kerentanan generasi muda terhadap paparan narkoba.
Menurut Rudhy, kokain sendiri belum menjadi jenis narkotika yang banyak diminati di masyarakat karena harganya relatif mahal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu.“Kalau kokain, sepertinya belum menjadi tren. Karena memang segmentasinya terbatas dan harganya sangat mahal, sehingga tidak mudah diakses oleh masyarakat umum,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa persoalan utama saat ini adalah tingginya keterlibatan generasi muda dalam penyalahgunaan narkoba, yang kerap dimanfaatkan oleh jaringan pengedar. “Anak-anak ini sering dijadikan sasaran, karena dianggap hukumannya lebih ringan. Padahal mereka yang justru harus kita lindungi bersama,” tegasnya.
Rudhy juga menyoroti kuatnya pengaruh lingkungan sosial terhadap keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan narkotika. “Di tempat rehabilitasi, banyak anak muda yang terlibat bukan karena keluarga bermasalah atau putus sekolah. Ada juga yang dari keluarga baik-baik, tetapi karena pengaruh lingkungan,” jelasnya.
Dalam penanganan narkotika, ia menekankan pentingnya pendekatan komprehensif yang mencakup penindakan jaringan atau supply reduction, pencegahan melalui edukasi atau demand reduction, serta rehabilitasi untuk meminimalkan dampak buruk pengguna atau harm reduction.
Rudi juga mengapresiasi kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Badan Narkotika Nasional dalam mengungkap berbagai kasus narkotika. “Kita patut mengapresiasi aparat yang sudah bekerja keras mengungkap jaringan, menangkap bandar, dan melakukan berbagai upaya pemberantasan,” katanya.
Namun ia menegaskan, upaya tersebut harus diimbangi dengan perlindungan terhadap generasi muda dari pengaruh lingkungan yang berisiko. “Kalau generasi muda tidak kita lindungi, maka mereka akan terus menjadi target empuk jaringan narkoba. Ini yang harus kita cegah bersama,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....