Diakui UNESCO Sebagai WBTB, Mahasiswa STMM Angkat Jamu Ginggang Jadi Dokumenter

  • 04 Mei 2026 19:09 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Upaya melestarikan warisan budaya tak benda (WBTB) terus digaungkan melalui pendekatan kreatif berbasis audio visual. Salah satunya melalui hasil karya Mahasiswa Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta, Program Studi Manajemen Produksi Berita yang mengangkat Jamu Ginggang, minuman tradisional berbasis rempah yang sarat nilai budaya.

Kepala Program Studi Manajemen Produksi Berita, Diyah Ayu Karunianingsih mengatakan bahwa film dokumenter yang diproduksi oleh mahasiswa semester 6 tidak hanya sekedar tugas akademik, melainkan hasil karya yang memiliki nilai edukatif dan relevansi sosial. Menurutnya, karya tersebut tetap mengedepankan pendekatan jurnalistik dengan informasi akurat dari narasumber yang dikemas secara menarik

“Dengan pemutaran film ini memang diharapkan mampu memotivasi mahasiswa khususnya program studi manajemen produksi berita agar semakin kreatif, semakin bisa menghasilkan karya karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Dan biasanya untuk memproduksi dokumenter harus tetap mempertahankan faktual, nah ini menjadi challenge bagi mahasiswa yang memang harus memiliki sence of jurnalistik sehingga bisa mengangkat isu isu disekitar,”kata diyah.

Film dokumenter yang berjudul “Our Culture - Jamu Ginggang : Dari Tradisi ke Tren Sehat” yang diproduksi mahasiswanya menjadi contoh bagaimana karya kreatif dapat mengangkat isu lokal dan menjadi konten yang bernilai. Tidak hanya menampilkan aspek budaya saja, film tersebut menyampaikan pesan kesehatan dan relevansi jamu di tengah gaya hidup modern.

Lebih lanjut, ia turut mengapresiasi kegiatan pemutaran film screening menjadi langkah awal untuk memberikan ruang apresiasi karya mahasiswa. Ke depan, hasil karya terbaik akan diseleksi untuk dipamerkan agar memiliki jangkauan yang lebih luas.

Sementara itu, Producer Film Dokumenter, Inezabad Kusmalinda, mengatakan bahwa karya ini lahir dari keinginan untuk memperkenalkan kembali budaya lokal agar tidak dilupakan di tengah arus modernisasi. Menurutnya, pemilihan tempat shooting memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan anak muda masa kini.

“Sebenarnya ingin melestarikan bahwa jamu masih bisa bertahan hingga saat ini apalagi gen z tuh cenderung sering nongkrong dan minuman mereka pun beragam, karena jamu punya beberapa manfaat. Kemudian kalau dari segi narasi dan visual di segmen pertama itu membahas tentang sejarah jamu ginggang, terus di segmen 2 budaya nongkrongnya gen z yan terakhir itu jamu ginggang sebagai tren hidup sehat,” kata Inez.

Film ini secara khusus menyasar generasi Z sebagai target utama. Hal ini didasarkan pada fenomena meningkatnya kesadaran hidup sehat di kalangan anak muda, meski disisi lain mereka masih dekat dengan kebiasaan mengonsumi minuman manis.

“Harapanya sih supaya budaya Indonesia yang berharga ini terutama rempah rempah yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda lebih dikenal oleh masyarakat terutama gen z. Kita sebagai gen z sudah sepatutnya harus bangga dan melestarikan dan lebih aware terhadap kesehatan untuk jangka panjang,”kata Inez.

Melalui karya ini, mahasiswa STMM telah membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang kreatif dan relevan. Jamu ginggang pun dihadirkan tidak hanya sebagai simbol tradisi melainkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang dapat diterima oleh generasi masa kini. (Victorio Firsta).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....