Bagong Suyanto: Refleksi May Day saat Tekanan Ekonomi

  • 01 Mei 2026 08:26 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei bukan sekadar seremoni tahunan. Pakar Sosiologi UNAIR, Prof Bagong Suyanto, menyoroti momentum Hari Buruh menjadi refleksi nasib kelas pekerja di tengah tantangan ekonomi.

Posisi pekerja di berbagai sektor dinilai kian rentan. Menurutnya, Hari Buruh tahun ini memiliki makna sangat mendalam, terutama saat kondisi perekonomian sedang tidak baik.

Ia menyayangkan pekerja sering diposisikan sebagai beban pengeluaran. Bukan sebagai penggerak utama ekonomi nasional.

“Tidak sedikit perusahaan menempatkan buruh hanya sebagai beban. Intinya, buruh bukan dianggap sebagai aset penting,” ujarnya, Kamis, 30 April 2026.

Ia juga menyoroti tren gig economy seperti pengemudi ojek online. Istilah ‘mitra’ dinilai hanya menutupi kerentanan kerja.

“Sebutan mitra menutupi proses eksploitasi yang terjadi. Driver ojol sering tidak berdaya di bawah tekanan aplikasi,” ujarnya.

Selain itu, para ‘mitra’ menanggung sendiri seluruh risiko pekerjaan. Buruh formal juga rentan akibat sistem kontrak atau outsourcing.

“Pengusaha terbebas dari berbagai kewajiban melalui sistem kontrak. Ini model kerja yang mensubordinasi buruh,” ujarnya.

Kondisi ini diperparah ketidaksesuaian lapangan kerja dan profil tenaga kerja. Banyak industri padat modal tidak menyerap tenaga kerja luas.

Akibatnya, angka pengangguran tetap tinggi di berbagai sektor. Bahkan, pengangguran terdidik terus mengalami peningkatan signifikan.

“Pemerintah perlu menggeser orientasi ke industri padat karya. Tanpa itu, isu pengangguran akan terus muncul,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....