Pemerintah Ingin Tutup Prodi, UMY Minta Penjelasan Rinci
- 28 Apr 2026 00:24 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – UMY meminta penjelasan secara rinci, terkait rencana penutupan program studi perguruan tinggi, seperti yang disampaikan Sekjend Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco. Wakil Rektor UMY Profesor Zuly Qodir menilai, rencana itu perlu dikaji lebih dalam lagi.
”Ini untuk mengetahui bidang apa saja di perguruan tinggi yang dianggap tidak relevan,” katanya, Senin, 27 April 2026. ”Karena beberapa prodi seperti pendidikan disebut mengalami inflasi jumlah lulusan, tetapi harus jelas pendidikan yang mana, apakah guru SD, guru mata pelajaran atau apa.”
Karena fakta di lapangan justru menunjukkan, masih banyak daerah yang kekurangan guru, begitu juga dengan kedokteran. Jika dianggap berlebih, namun pemerintah tetap mendorong pembukaan fakultas kedokteran di universitas.
”Bisa jadi yang dibutuhkan sebenarnya dokter spesialis, bukan dokter umum,” ucapnya. ”Tetapi ini kan belum dijelaskan secara tegas oleh Kemendiktisaintek.”
| Baca juga: Cara Budidaya Keliru, Kopi Rentan Cacat |
Profesor Zuly pun menekankan, persoalan utamanya tidak semata-mata terletak pada jumlah program studi. Namun pada keterhubungan antara kurikulum dan kebutuhan dunia kerja, karena pendekatan multidisiplin tetap menjadi kunci.
Sehingga, lulusan universitas tetap relevan tanpa harus menutup program studi tertentu. Berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu sosial, tetap memiliki peran penting dalam mendukung industri, yang kebutuhannya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup aspek manajerial, sosial, dan kebijakan.
”Jika industri hanya dilihat dari sisi teknik semata, itu jelas tidak cukup,” katanya. ”Pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga relasi dengan masyarakat membutuhkan kontribusi ilmu sosial, sehingga persoalannya bagaimana mengintegrasikannya dengan kebutuhan dunia industri.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....