Tantangan Media Lawan Buzzer dan 'Homeless Media' di Era Digital

  • 23 Apr 2026 21:01 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Informasi melalui media digital semakin berlimpah, baik media online maupun media sosial. Namun tidak sedikit yang belum dipastikan kebenarannya, sehingga dibutuhkan filter.

Media massa, masih menjadi salah satu pilar utama dalam memfilter segala bentuk informasi yang beredar di masyarakat. Terlebih Indonesia masih menjadi negara penerima informasi, bukan memproduksi.

Ketua Departemen Komunikasi Fakultas Vokasi Unair, Gagas Gayuh Aji pada Kamis 23 April 2026 menjelaskan, filter informasi menjadi penting. Baik perihal kebenaran, ketepatan, hingga nilai informasi.

"Nah maka disini teman-teman media menjadi pilar yang paling penting. Artinya ada pentahelix, disitu ada pemerintah, ada LSM, ada masyarakat, ada perusahaan dan juga yang terakhir adalah teman-teman media," katanya.

Oleh karena itu, Gagas berharap media massa lebih selektif dalam memframing suatu berita berdasarkan azas kejujuran. Meskipun tantangannya adalah, media massa berhadapan dengan buzzer.

"Meskipun kita juga sudah mencoba untuk memframing bagus, biasanya juga kalah dengan buzzer, biasanya kalah dengan narasi-narasi yang memang dibangun untuk dibenturkan dengan informasi yang tepat," ujarnya.

Gagas, menjadi salah satu narasumber yang dihadirkan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) yang digelar Sekretariat Dewan Jatim. Sekretaris Dewan (Sekwan) Jatim Moh. Ali Kuncoro berharap, media menyuarakan informasi yang baik dan benar, sesuai fakta.

"Karena selama ini kita tahu, saat ini kita itu hanya berpikir bagaimana yang tercepat untuk memberikan berita tanpa mengukur ketepatan berita itu sendiri," katanya.

Terlebih, lanjut Ali, saat ini muncul homeless media, yaitu media digital yang hanya menyebarkan informasi via media sosial. Menurut Ali, menjadi tantangan tersendiri bagi media, untuk menyajikan informasi yang benar.

"Yang mana mereka juga bisa mengirimkan berita tanpa tahu bagaimana membuat berita itu sesuai dengan syarat atau etika jurnalistik yang kita kenal," katanya.

Dengan menghadirkan Gagas, yang juga seorang praktisi konten media, diharapkan mampu meningkatan pengetahuan, dan kompetensi jurnalis. Selain itu, menambah wawasan atau literasi dalam penggunaan teknologi digital, khususnya pembuatan konten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....