TBM Kepri Soroti Dampak Bahasa Gaul Terhadap Generasi Muda

  • 22 Apr 2026 21:19 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Fenomena penggunaan bahasa gaul di ruang publik kian berkembang dan mengalami pergeseran makna. Jika sebelumnya hanya digunakan sebagai candaan dalam lingkup terbatas, kini berbagai istilah tersebut mulai menjadi kebiasaan yang diterima luas, bahkan digunakan dalam media sosial hingga forum resmi, Rabu, 22 April 2026.

Perkembangan ini tidak terlepas dari arus digitalisasi yang semakin masif, sehingga batas antara ruang privat dan publik menjadi kabur. Bahasa yang awalnya bersifat informal kini dengan mudah tersebar dan dikonsumsi oleh masyarakat luas dalam waktu singkat.

Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau (Kepri), Harken, menegaskan, bahwa kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Hal ini dikarenakan, dapat memengaruhi kualitas komunikasi di masyarakat.

“Ketika bahasa di ruang publik mulai kehilangan nilai, maka yang terancam bukan hanya etika komunikasi, tetapi juga jati diri generasi kita,” ujar Harken.

Harken menyebutkan, dampak normalisasi bahasa negatif ini sangat berpengaruh terhadap generasi muda yang cenderung mudah meniru apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari. Jika tidak dikendalikan, hal ini dapat membentuk pola komunikasi yang kurang santun di masa depan.

“Generasi muda adalah kelompok yang paling cepat menyerap,” ucapnya.

Menurutnya, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi bahasa dan budaya. Tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kesadaran dalam menggunakan bahasa secara tepat.

“Tidak semua yang viral itu layak ditiru, masyarakat perlu lebih kritis dalam menggunakan dan mengonsumsi bahasa,” tuturnya.

Harken menekankan, bahwa tanggung jawab menjaga kualitas bahasa tidak hanya berada pada komunitas literasi. Namun, juga seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, media, hingga pemerintah.

“Setiap kebebasan berekspresi harus diiringi tanggung jawab, bahasa harus tetap menjadi alat yang membangun, bukan meruntuhkan,” katanya.

Harken berharap, fenomena ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat budaya berbahasa yang lebih sehat di ruang publik. Ia mengajak masyarakat untuk mulai dari hal sederhana, seperti berpikir sebelum berbicara dan mempertimbangkan dampak dari setiap kata yang digunakan.

“Jika kita mampu mengelola ini dengan baik, maka ini bisa menjadi momentum untuk membangun budaya bahasa yang lebih sehat,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....