Unusa Hadirkan Cerita Hebat Wisudawan dari Beragam Prestasi dan Profesi
- 22 Apr 2026 15:37 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Beragam cerita inspiratif dan prestasi ditorehkan para wisudawan, pada prosesi wisuda mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu 22 April 2026. Ratusan wisudawan ini telah dinyatakan lulus, dan mulai mengaplikasikan ilmunya kepada masyarakat.
Unusa memberikan apresiasi kepada empat wisudawan, yang dinilai memiliki prestasi akademik maupun non akademik. Bahkan beberapa diantaranya, memiliki cerita inspiratif khususnya terkait dengan toleransi atau perbedaan keyakinan.
Cerita toleransi datang dari wisudawan yang merupakan seorang Biarawati Suster (Sr) Yustina Klun Kolo. SSpS, wisudawan Program Studi D4 Analis Kesehatan. Meski sempat khawatir saat pertama kali memulai studi di Unusa.
"Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang," ujarnya.
Yustina yang mengabdikan diri dan bekerja di RSK. Budi Rahayu, Blitar ini menunjukkan bahwa keberagaman di lingkungan pendidikan tinggi dapat menjadi kekuatan dalam membangun harmoni sosial. "Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan," katanya.
Berbeda dengan sosok Kompol Arif Faisol Efendi, yang telah menyandang gelar Sarjana Akuntansi. Di tengah padatnya tugas sebagai perwira kepolisian, Kompol Arif membuktikan bahwa semangat menuntut ilmu tidak mengenal batas.
"Motivasi utama saya adalah untuk menunjang profesi sebagai auditor internal," ungkap ayah dari lima anak ini.
Melalui kisahnya, Arif juga mengajak rekan-rekan di institusi kepolisian maupun instansi lainnya untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan. "Sekarang banyak pilihan kuliah fleksibel yang tidak mengganggu jam dinas. Unusa menjadi salah satu pilihan yang sangat baik," tegasnya.
Mengabdi tidak harus di dalam negeri, sebagaimana cerita Maulidiya, wisudawan Program Studi S1 Kebidanan Alih Jenjang. Ia berhasil menembus dunia kerja global dengan berkarier di rumah sakit di Arab Saudi, tepatnya di Rumah Sakit dr Sulaiman Alhabib, Sahafa, Riyadh.
"Saya sangat bersyukur, senang, dan terharu karena ini merupakan karier pertama saya dan langsung bekerja di luar negeri. Semua usaha dan doa akhirnya terbayarkan," katanya.
Saat ini, Maulidiya telah menyelesaikan kontrak kerja pertamanya (2023–2025) dan melanjutkan kontrak kedua selama dua tahun berikutnya. Pengalaman bekerja di lingkungan multinasional juga memberinya pelajaran penting dalam komunikasi lintas budaya.
"Saya bertemu pasien dari berbagai negara, sehingga belajar banyak tentang komunikasi lintas budaya," ujarnya.
Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Ini dibuktikan oleh Frysca Virnanda Retikasari, wisudawan terbaik dari Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Frysca merupakan penerima program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).
Frysca menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan derajat sosial keluarganya. "Orang tua saya selalu mendukung, meskipun secara finansial terbatas karena adik-adik saya juga masih sekolah. Beasiswa ini menjadi jalan bagi saya untuk terus melangkah," katanya.
Di sisi lain, ia juga telah merintis usaha di bidang pendidikan dengan mendirikan LBB Smartkid Education, sebuah lembaga bimbingan belajar untuk siswa pra-sekolah, TK, dan SD. Ia berharap lembaga tersebut tidak hanya membantu siswa, tetapi juga membuka peluang kerja.
"Setiap orang adalah bintang, dan bintang pasti bersinar. Jangan takut gagal, karena tugas kita adalah menemukan cahaya itu dan membuatnya menerangi banyak tempat," pesan ayahnya yang selalu ia pegang teguh.
Di antara para wisudawan Magister Keperawatan pada acara wisuda di Unusa, nama Yayuk Ekawati tampil menonjol berkat dedikasi dan keunikan perannya di dunia pelayanan kesehatan. Bahkan ia dijuluki sebagai ‘Mata Elang Klinis’.
Tak hanya unggul dalam praktik klinis, Yayuk juga dikenal sebagai fasilitator pendidikan dan pelatihan (diklat) yang inspiratif. Ia memiliki kemampuan mengubah pengetahuan teoritis menjadi keterampilan praktis yang mudah dipahami.
Kombinasi antara ketegasan dalam menjaga mutu layanan dan kelembutan dalam mendidik, menjadikan Yayuk Ekawati sosok teladan di bidang keperawatan. Keberhasilannya menyelesaikan studi Magister Keperawatan dengan IPK 3,94 menjadi bukti komitmennya untuk terus berkembang dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....