Ancaman El-Nino, Petani di Jombang Diimbau Lakukan Penyesuaian Pola Tanam

  • 21 Apr 2026 20:15 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang — Petani di Kabupaten Jombang diimbau menyesuaikan pola tanam sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman El Nino 2026 yang berpotensi memicu kekeringan. Penyesuaian ini dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah prediksi penurunan curah hujan pada musim kemarau mendatang.

Kepala Bidang Perlindungan Pasca Panen dan Pemasaran Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Akhmad Jani Masyhudi, menjelaskan bahwa fenomena El Nino diperkirakan muncul pada pertengahan tahun dengan intensitas relatif ringan, namun tetap membawa dampak signifikan.

“Curah hujan diprediksi berkurang sekitar 20 hingga 40 persen. Kondisi ini berpotensi terjadi pada puncak kemarau sekitar Juli sampai September 2026 dan dapat memengaruhi musim tanam kedua maupun ketiga,” jelasnya, Selasa, 21 April 2026.

Ia menyebutkan, pola tanam di Jombang selama ini terbagi dalam tiga periode, yakni musim hujan, kemarau pertama, dan kemarau kedua. Pada fase kemarau kedua, risiko kekeringan dinilai paling tinggi sehingga diperlukan penyesuaian strategi tanam.

“Biasanya pada periode tersebut masih ada petani yang menanam padi. Namun, dengan kondisi cuaca yang diperkirakan lebih kering, pola tanam perlu disesuaikan agar tidak menimbulkan kerugian,” ujarnya.

Selain faktor iklim, gangguan pasokan air juga dipicu adanya perbaikan infrastruktur irigasi, seperti Dam Jatimlerek di Kecamatan Plandaan dan saluran Mrican Kanan yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus hingga September 2026. “Untuk wilayah yang terdampak perbaikan jaringan irigasi, kami menyarankan agar tidak menanam padi pada musim tanam ketiga karena ketersediaan air akan terbatas,” ujarnya.

Sejumlah wilayah seperti Bandar Kedungmulyo, Megaluh, sebagian Tembelang, Peterongan, hingga Kesamben masuk dalam daerah rawan kekeringan. Kawasan irigasi Siman yang mengairi ribuan hektare lahan di 12 kecamatan juga menjadi perhatian karena sangat bergantung pada distribusi air. “Jika suplai air terganggu, potensi kekeringan hingga gagal panen tentu semakin besar,” katanya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, kekeringan sempat melanda wilayah Sumobito, Peterongan, Perak, hingga Gudo dan menyebabkan sebagian lahan mengalami puso. Untuk mengantisipasi kondisi serupa, pemerintah daerah mendorong percepatan masa tanam saat masih tersedia air hujan, optimalisasi tampungan air seperti embung dan waduk, serta penyediaan sarana irigasi tambahan.

Lebih lanjut, pihaknya juga telah melakukan edukasi kepada petani terkait perubahan pola tanam. “Kami mengarahkan petani untuk menyesuaikan pola tanam, misalnya dari padi tiga kali menjadi dua kali tanam padi dan satu kali bera. Selain itu, petani juga kami dorong menyiapkan pompa, sumur, serta memilih varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering,” ucapnya.

Di sisi lain, peningkatan suhu udara juga berpotensi memicu serangan organisme pengganggu tanaman. “Kami mengingatkan petani agar waspada terhadap hama seperti penggerek batang. Dalam hal ini kami juga sudah memberikan pendampingan sejak tahap awal persemaian agar pengendalian bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....