Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tahu Tertekan
- 14 Apr 2026 09:54 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo - Harga kedelai impor di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mulai merangkak naik pasca Lebaran. Kenaikan ini berdampak langsung pada para agen serta perajin tahu dan tempe yang menjadi konsumen utama.
Salah satu agen kedelai impor asal Amerika Serikat di wilayah tersebut, Muhammad Fardani, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi sejak menjelang Idulfitri. Namun, setelah Lebaran, harga kembali mengalami kenaikan.
“Kenaikan sudah terasa sejak sebelum Lebaran, tapi setelah Lebaran naik lagi sekitar Rp200 per kilogram,” ujar Fardani, Selasa 14 April 2026.
Saat ini, harga kedelai impor kualitas baik berada di kisaran Rp10.600 per kilogram. Sebelumnya, harga masih berada di rentang Rp10.400 hingga Rp10.500 per kilogram. Kenaikan ini mulai dikeluhkan oleh para pembeli, khususnya perajin tahu dan tempe skala rumahan.
Tak hanya dari sisi harga, distribusi pasokan kedelai juga sempat mengalami kendala. Pengiriman yang biasanya rutin setiap pekan, sempat terlambat hingga dua hari, sehingga memengaruhi ketersediaan di tingkat agen dan distributor.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, agen di Desa Sepande menyediakan beberapa pilihan merek kedelai impor asal Amerika Serikat dengan kualitas dan harga yang bervariasi, seperti Hiu, Bola, Senggigi, dan BW. Dari keempat merek tersebut, jenis GCU seperti Hiu dan Bola dinilai memiliki kualitas lebih baik dan banyak digunakan perajin tahu, sedangkan merek Senggigi lebih banyak dipilih perajin tempe.
Meski harga terus mengalami kenaikan setiap tahun, para perajin tetap lebih memilih kedelai impor dibandingkan kedelai lokal. Selain dinilai menghasilkan kualitas produk yang lebih baik, ketersediaan kedelai lokal juga masih terbatas di pasaran.
Dalam satu kali pengiriman, agen mampu mendatangkan sekitar sembilan ton kedelai impor setiap pekan. Pelanggan mereka tidak hanya berasal dari wilayah Sidoarjo, tetapi juga dari luar provinsi hingga luar pulau.
Para agen berharap harga kedelai dapat kembali stabil agar para perajin tahu dan tempe tetap bisa berproduksi secara berkelanjutan. Mengingat kedua produk tersebut merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Sementara itu, para penjual tahu memilih untuk tidak menaikkan harga jual di tengah kenaikan bahan baku. Mereka menyiasatinya dengan memperkecil ukuran produk.
“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Jadi kami kecilkan ukuran tahu supaya tetap bisa jualan,” kata Juni, salah satu penjual tahu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....