Harga RON 95 RI Terendah ASEAN

  • 04 Apr 2026 19:06 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah tekanan pasar energi global, Indonesia tercatat sebagai negara dengan harga bensin RON 95 terendah di kawasan ASEAN. Data Global Petrol Prices per 30 Maret 2026 menunjukkan harga bensin Indonesia berada di kisaran 0,731 dolar AS per liter, atau sekitar Rp12.390 per liter, lebih rendah dibanding Malaysia dan Vietnam.

Dalam daftar ASEAN, Singapura menempati posisi tertinggi dengan kisaran sekitar Rp43.141 per liter, disusul Laos Rp30.153, Thailand Rp27.115, Filipina Rp26.914, dan Vietnam sekitar Rp15.940 per liter. Sementara Malaysia berada di kisaran Rp16.205 per liter. Data itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan harga RON 95 paling rendah di antara negara ASEAN yang tercatat pada periode tersebut.

Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi saat pasar energi dunia masih dibayangi risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Melansir laporan resmi International Energy Agency (IEA), konflik di kawasan tersebut disebut memicu salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. “Perang di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” demikian tertulis dalam Oil Market Report edisi Maret 2026.

IEA juga mencatat jalur strategis Selat Hormuz, yang sebelumnya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, kini mengalami penurunan arus distribusi secara tajam. “Arus minyak mentah dan produk melalui Selat Hormuz turun drastis dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi sangat terbatas,” demikian tertulis dalam laporan yang sama.

Meski tekanan global meningkat, harga RON 95 di Indonesia relatif tetap lebih rendah dibanding negara ASEAN lain. Hal ini menunjukkan kebijakan energi domestik masih mampu menahan gejolak harga internasional, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah kekhawatiran kenaikan biaya transportasi dan logistik.

Di sisi lain, tekanan geopolitik yang belum mereda menjadi pengingat pentingnya ketahanan energi nasional. Jika distribusi minyak dunia terganggu lebih lama, risiko penyesuaian harga BBM di kawasan, termasuk Asia Tenggara, tetap terbuka. Karena itu, kondisi saat ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat diversifikasi energi, efisiensi konsumsi, dan percepatan transisi menuju energi baru terbarukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....