Istiqamah Pasca Ramadan Jadi Kunci Menjaga Kualitas Ibadah

  • 04 Apr 2026 07:03 WIB
  •  Kendari
Poin Utama
  • Mutiara Pagi
  • Amalan yang perlu dilaksanakan pasca Ramadhan
  • rri pro 1

RRI.CO.ID, Kendari - Semangat beribadah yang meningkat selama Ramadan diharapkan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. Hal ini menjadi perhatian dalam segmen Mutiara Pagi Pro 1, Sabtu 28 Maret 2026 yang menghadirkan narasumber, KH. Hasanuri, SH., M.HI, di studio.

Dalam perbincangan tersebut, KH. Hasanuri menekankan bahwa tantangan utama umat Muslim setelah Ramadan adalah menjaga konsistensi atau istiqamah dalam menjalankan amalan.

“Ramadan itu sejatinya adalah latihan. Maka setelahnya, yang diuji adalah bagaimana kita bisa mempertahankan kebiasaan baik itu dalam kehidupan sehari-hari,” ujar KH. Hasanuri.

Ia menjelaskan, amalan pasca Ramadan tidak harus dilakukan dalam jumlah besar, namun perlu dijaga secara berkelanjutan. Menurutnya, ibadah wajib seperti salat lima waktu tetap menjadi fondasi utama, yang kemudian dapat dilengkapi dengan amalan sunnah.

“Tidak perlu langsung banyak. Justru amalan kecil yang dilakukan terus-menerus itu lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan yang besar tapi hanya sesaat,” tambahnya.

Selain itu, KH. Hasanuri juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap sosial dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tidak mempersulit orang lain. Nilai-nilai kesabaran dan empati yang telah dilatih selama Ramadan seharusnya tetap menjadi bagian dari perilaku setelahnya.

“Kalau selama Ramadan kita belajar menahan diri dan memudahkan orang lain, maka itu harus terus dilanjutkan. Jangan sampai setelah Ramadan, kita kembali pada kebiasaan yang justru menyulitkan sesama,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk memulai langkah kecil yang realistis, seperti menjaga rutinitas membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta menjalankan puasa sunnah.

Melalui segmen ini, pendengar diharapkan dapat mengambil pelajaran bahwa Ramadan bukanlah akhir dari perjalanan spiritual, melainkan titik awal untuk membangun kebiasaan baik yang lebih konsisten.

“Yang terpenting bukan seberapa besar perubahan kita, tapi seberapa mampu kita menjaganya tetap hidup,” tutup KH. Hasanuri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....