Ratusan Umat Mengikuti Perayaan Minggu Palma di Paroki Maria Ratu Semesta Alam

  • 30 Mar 2026 19:47 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Umat Katolik di seluruh dunia mengikuti Perayaan Minggu Palma yang pada tahun ini jatuh pada Minggu, 29 Maret 2026. Perayaan ini menjadi penanda dimulainya Pekan Suci, yakni rangkaian peringatan penting menjelang Hari Raya Paskah yang akan dirayakan pada 5 April 2026. Minggu Palma mengingatkan umat akan peristiwa masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem yang disambut meriah dengan lambaian daun palma. Momen ini sarat makna kerendahan hati, pengorbanan, serta menjadi awal perjalanan menuju peristiwa sengsara hingga kebangkitan-Nya.

Di Paroki Maria Ratu Semesta Alam Sintang, perayaan berlangsung khidmat dan penuh sukacita. Ratusan umat ambil bagian dalam perarakan yang menjadi bagian dari rangkaian liturgi. Misa dipimpin oleh RD. Patrisius Piki, Pr., yang mengajak umat untuk memaknai Pekan Suci dengan hati yang terbuka dan penuh refleksi. Perayaan diawali dengan pemberkatan daun palma, kemudian dilanjutkan dengan perarakan dari kompleks sekolah SMP - SD Panca Setya 2 Sintang menuju gereja. Umat berjalan bersama sambil membawa daun palma sebagai simbol iman dan pengharapan.

Suasana kebersamaan dan kekhidmatan begitu terasa sepanjang perarakan, mencerminkan semangat umat dalam menyambut Pekan Suci sebagai momen untuk memperdalam iman dan memperbarui diri. Dalam homilinya, RD. Patris, menekankan bahwa tokoh-tokoh dalam kisah sengsara Yesus merupakan cerminan dari kehidupan manusia saat ini.

“Kadang kita seperti Yudas, ketika kita memilih hal yang salah demi keuntungan, demi sesuatu yang tidak pasti. Kadang kita seperti Petrus, ketika kita tahu yang benar tetapi tidak berani bersaksi. Kita juga bisa seperti Pilatus, ketika kita tahu itu tidak adil, tetapi kita diam dan justru mencari kenyamanan diri sendiri. Dari semuanya itu, Yesus tetap menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Allah. Yesus tetap setia, tidak membalas kejahatan, tidak meminta diturunkan dari salib untuk membuktikan bahwa Dia benar, tetapi tetap menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar sampai akhir hidup-Nya. Inilah kasih yang sejati, kasih yang tidak tergantung pada situasi, kasih yang tidak berubah karena perilaku banyak orang, walaupun dunia mengatakan itu salah,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak umat untuk melihat penderitaan sebagai bagian dari perjalanan iman yang justru menghadirkan kasih dan karunia Allah. “Perayaan hari ini memuat pesan yang sangat dalam dan dekat dengan hidup kita. Kita semua pasti punya salib masing-masing. Mungkin masalah keluarga yang sampai hari ini belum terjawab, tekanan sosial ekonomi, kekecewaan, kegagalan, atau rasa tidak dihargai meski sudah banyak berbuat. Namun, inti Injil hari ini tidak menunjukkan bahwa penderitaan itu akan berakhir dalam hidup kita, tetapi justru melalui penderitaan kita semakin mengalami kasih dan karunia Allah,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa berat salib yang dipikul, melainkan bagaimana menjalaninya dengan setia. “Maka, seberapa berat pun salib yang kita pikul, bukan soal beratnya, tetapi bagaimana kita menjalaninya. Apakah kita tetap setia, tetap percaya, dan tetap mengasihi orang lain, walaupun berada dalam situasi sulit. Perayaan ini bukan hanya tentang mengangkat daun palma, tetapi membuka hati untuk tetap setia kepada Allah. Jangan sampai kita hanya berseru ‘Hosana’ di dalam gereja, tetapi menjauh dari Allah setelah keluar dari gereja,” katanya.

Menutup homilinya, RD. Patris juga mengajak umat untuk meneladani kesetiaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. “Mari kita belajar dari Yesus yang setia, bahkan dalam hal-hal kecil, dengan penuh kerendahan hati. Dalam penderitaan pun, Ia tetap mengasihi. Itulah kemenangan sejati, bukan kemenangan dunia, tetapi kemenangan surga. Mari dalam perayaan Ekaristi ini kita mohon rahmat Tuhan, agar kita sungguh-sungguh dikuatkan untuk menjadi pemenang surgawi dalam kehidupan kita,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....