Permak Baju Ramadan, Orderan Ngah Ira Naik
- 25 Mar 2026 21:11 WIB
- Pontianak
RRI. CO.ID, Pontianak – Usaha jasa permak pakaian milik Ngah Ira biasa disapa warga GG. Madrasah Kelurahan Tanjung Hulu Pontianak Timur mengalami peningkatan pesat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri tahun ini. Permintaan masyarakat untuk memperbaiki dan menyesuaikan pakaian lama menjadi faktor utama lonjakan tersebut.
Ngah Ira mengungkapkan, selama Ramadan tahun ini orderan permak meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini terjadi terutama menjelang hari raya, ketika masyarakat mulai mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan saat Lebaran.
“Alhamdulillah ada peningkatan sekitar 30 persen dari tahun lalu. Biasanya ramai itu menjelang Idul Fitri,” ujarnya, Rabu, 25 Maret 2026.
Ia menjelaskan, sebagian besar pesanan yang masuk didominasi oleh jasa permak, seperti mengecilkan baju, memotong bagian bawah celana, hingga menyesuaikan ukuran pakaian agar lebih pas digunakan. Permak celana berbahan jeans, termasuk merek Levi’s, juga cukup banyak diminati, terutama untuk penyesuaian panjang kaki celana.
Ngah Ira menegaskan, dirinya memang hanya fokus pada jasa permak dan tidak menerima pesanan pembuatan pakaian baru. Hal ini dilakukan agar kualitas pekerjaan tetap terjaga dan pengerjaan lebih maksimal.
Untuk tarif, Ngah Ira mematok harga yang relatif terjangkau. Jasa permak baju berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp40 ribu per potong, sementara jasa potong sederhana seperti gamis atau celana dibanderol mulai Rp10 ribu hingga Rp25 ribu.
Pelanggan yang datang tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya, tetapi juga dari luar daerah. Sebagian besar merupakan pelanggan lama maupun rekomendasi dari mulut ke mulut.
Dari peningkatan orderan tersebut, Ngah Ira mengaku mampu meraup omzet harian sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu selama periode ramai menjelang Lebaran.
Menurutnya, usaha permak pakaian masih sangat menjanjikan di tengah kondisi saat ini. Kebutuhan masyarakat untuk menyesuaikan pakaian lama dinilai akan terus ada, terutama pada momen-momen tertentu seperti Ramadan dan Idul Fitri.
“Masih sangat menjanjikan,” katanya optimistis.
Kisah Ngah Ira menjadi gambaran bahwa usaha sederhana berbasis keterampilan tetap memiliki peluang besar, terutama jika mampu membaca kebutuhan masyarakat dan menjaga kualitas layanan.
Baca juga: Dari Iseng, Pekarangan Rumah Hasilkan Panen Cabai Rawit
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....