KH Zulfa Mustofa Ajak Jaga Istikamah Amalan Kebaikan Ramadan

  • 21 Mar 2026 16:34 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang: Pelaksanaan salat Idulfitri 1447 Hijriah/2026 di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang diikuti ribuan umat muslim berlangsung khidmat dan lancar. Ribuan umat muslim dari Kota Semarang dan sekitarnya sejak pagi berbondong-bondong dengan jalan kaki atau naik kendaraan menuju ke MAJT di Jalan Gajah Raya Kota Semarang, Sabtu 21 Maret 2026.

Banyaknya jemaah salat Idulfitri yang yang hadir, membuat ruang utama masjid tidak muat menampungnya sehingga Meluber memenuhi pelataran plaza. Bertindak sebagai imam salat Idulfitri, KH Ulil Abshor Alhafiz dengan khatib Wakil Ketua PBNU Dr (HC) KH Zulfa Mustofa.

Sebelum dimulai salat, Ketua Umum PP MAJT Prof Noor Achmad menjelaskan MAJT dibangun pada tahun 2001 di atas lahan seluas 10 hektare. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006.

“Saya sampaikan ucapan terima kasih atas dukungan masyarakat sehingga MAJT bisa terus berkembang tidak secara nasional, tapi juga internasonal,” ujar Noor Achmad.

Sementara, Wakil Ketua PBNU Dr (HC) KH Zulfa Mustofa dalam kotbahnya mengusung tema “Ramadan Sebagai Madrasah Pembentukan Pribadi Rabani.” Ramadan dinilai sebagai satu dari sekian bulan yang dimuliakan oleh Allah, senantiasa menjadi momentum pribadi muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah setiap tahunnya, dengan kewajiban ibadah puasa.

Melalui puasa seseorang menjadi lebih memiliki kepekaan untuk peduli kepada sesamanya karena bisa merasakan rasa lapar yang dirasakan orang-orang yang kurang beruntung dalam kehidupannya. Lalu dengan ibadah-ibadah lainnya dalam bulan suci Ramadan seseorang bisa terus menumbuhkan kesadaran bahwasannya hanya seorang hamba yang seyogianya terus mendekatkan diri kepada sang pencipta untuk menciptakan

“Permasalahannya setelah Ramadan berakhir tidak banyak dari kita yang mendawamkan nilai kebaikan yang dilaksanakan di bulan mulia tersebut. Sebaliknya tidak sedikit dari kita yang intensitas nilai kebaikannya menurun setelah bulan suci Ramadan meninggalkan kita,” ujarnya.

Hal ini menyebabkan tidak terasanya perubahan positif dalam pribadi seorang muslim meskipun ia telah melalui puluhan kali bulan suci Ramadan dalam hidupnya. Penyebab utama fenomena tersebut jika ditelisik dalam perspektif ajaran agama adalah ketiadaan istikamah atau konsistensi dalam melaksanakan kebaikan.

Selain itu menjadikan keutamaan yang dimiliki momentum tertentu seperti keutamaan bulan suci Ramadan sebagai alasan utama dalam melakukan kebaikan. “Sikap ini tidaklah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang menekankan urgensitas istikamah dalam melaksanakan kebaikan tanpa terikat dengan momentum tertentu atau bulan-bulan tertentu saja,” kata Kai Sulfa.

Menurut dia, para ulama sejak masa klasik menjadikan istikamah sebagai salah satu maqamaat yang seharusnya diperhatikan setiap muslim. Seperti al-Imam al-Qusyairi penulis kitab al-risalah al-qusyairiyah, hingga ulama kontemporer seperti al-Syaikh wahbah Zuhaili penulis kitab Akhlak al-Muslim wa Alaqatuh bil-Khalik.

“Pribadi muslim yang berhasil menjadikan Ramadan serta bulan-bulan mulia lainnya sebagai madrasah penempa jiwa mereka untuk menjadi insan Rabbani yang konsisten atau istikamah,” tandasnya. Melakukan kebaikan karena Allah sejatinya telah dijanjikan dengan kabar gembira.

Bahwa mereka tidak akan pernah merasakan kesedihan dan ketakutan baik itu dalam kehidupan mereka di dunia maupun kehidupan mereka di akhirat. Hal itu ditegaskan Ibnu Asyur ketika menafsirkan firman Allah dalam surat Fusshilat ayat ke -30.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....