Ribuan Jemaah Salat Id di Islamic Center Surabaya

  • 21 Mar 2026 09:30 WIB
  •  Surabaya

RRI. CO.ID, Surabaya - Ribuan jemaah dari Surabaya dan wilayah sekitarnya memadati Masjid Raya Islamic Center Jawa Timur, Jalan Raya Dukuh Kupang, Surabaya, Sabtu, 21 Maret 2026, untuk menunaikan salat Idulfitri 1447 Hijriah. Pelaksanaan ibadah berlangsung khidmat.

Bertindak sebagai khatib, Imam Besar Masjid Sunan Ampel Surabaya, KH A Zul Hilmi, menyampaikan khutbah bertema Ketaqwaan dan Menjaga Lisan. Dalam khutbahnya, KH Zul Hilmi menekankan bahwa ibadah puasa Ramadan sejatinya membentuk pribadi yang lebih bijaksana.

Menurutnya, keberhasilan puasa tercermin dari kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri, terutama dalam menjaga ucapan. “Pasca-Ramadan, hati seorang mukmin seharusnya menjadi pengendali utama setiap tindakan, termasuk dalam mengontrol lisan,” ujarnya di hadapan ribuan jemaah.

Ia mengingatkan, lisan yang tidak terjaga dapat membawa dampak serius, tidak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. “Mulut yang tidak terkendali dapat membahayakan diri sendiri dan menjadi sebab seseorang mendapatkan ancaman siksa,” katanya.

Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, KH Zul Hilmi menjelaskan sejumlah bahaya yang bersumber dari lisan. Salah satunya adalah dusta atau kebohongan, yang dinilai sebagai dosa besar karena merusak kepercayaan.

Selain itu, ia menyinggung praktik ghibah atau menggunjing. Menurutnya, ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain, meskipun hal tersebut benar, namun tidak disukai oleh orang yang dibicarakan.

“Hal ini telah diingatkan dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Hujurat ayat 12, yang melarang keras perbuatan menggunjing,” ujarnya.

Bahaya lain yang turut disoroti adalah namimah atau adu domba. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pemicu konflik yang dapat merusak hubungan sosial dan persatuan.

“Ucapan yang memecah belah hubungan antarindividu adalah dosa besar yang harus dihindari,” katanya tegas.

KH Zul Hilmi juga mengingatkan pentingnya berbicara berdasarkan ilmu dan kebenaran. Menurutnya, ucapan tanpa dasar pengetahuan hanya akan menimbulkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya menepati janji sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim. Ia mengingatkan agar tidak mudah mengucapkan janji jika tidak mampu menunaikannya.

“Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati. Mengingkari janji merupakan salah satu tanda kemunafikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu janji boleh tidak terpenuhi jika ada alasan darurat yang tidak dapat dihindari. Namun, hal tersebut tidak boleh menjadi kebiasaan.

Khutbah Idulfitri tersebut ditutup dengan ajakan untuk menjadikan momentum Ramadan sebagai titik awal memperbaiki akhlak, khususnya dalam menjaga lisan sebagai cerminan keimanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....