Kak Seto Semarakkan Festival Pendidikan Inklusi Hari ke-2 di Nias Utara
- 07 Mar 2026 17:23 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Kehadiran Kak Seto Mulyadi membawa semangat bagi anak-anak yang menghadiri Festival Pendidikan Inklusi Berbasis Budaya Lokal Nias Utara yang digelar pada di Lapangan Tribun Nias Utara, Jum’at 6 Maret 2026.
Kak Seto yang diundang oleh Panitia Festival, menyampaikan materi “Mendidik dengan Cinta”, dimana pada presentasinya tersebut ia menekankan kepada para pendidik untuk kreatif dalam mendidik, selipkan unsur hiburan agar anak-anak tertarik dan tidak merasa bosan.
“Para guru mohon menguasai materi, menguasai standar kompetensi lulusan, mengajar dengan kreatif, jangan datar saja, tetapi kreatif, kadang-kadang menyanyi, mendongeng, kadang-kadang menggambar dan sebagainya dan yang paling penting selalu mengembangkan diri,” ucapnya.
Usai presentasinya Kak Seto lalu mendongeng kepada anak-anak dengan menggunakan boneka Loli dan Si Komo serta melakukan atraksi sulap sederhana yang mendapat tepuk tangan dari anak-anak yang hadir di Pendopo tempat acara berlangsung. Tidak lupa ia juga memberikan kuis dan membagikan hadiah bagi yang bisa menjawab.

Setelah presentasi dari kak Seto Mulyadi dilanjutkan dengan pemberian hadiah Teacher Competition serta Dialog Interaktif dan Edukatif yang menghadirkan narasumber yakni guru-guru Sekolah dasar yang membagikan pengalaman unik mereka selama mengajar perubahan perilaku siswa, dan penerapan literasi di dunia nyata. Hadir juga sebagai narasumber kepala sekolah SD Negeri Sitolubanua dan Kepala Madrasah MIN Nias Utara yang menceritakan dampak program Kreasi pada manajemen sekolah dan ekosistem pendidikan secara luas.
Ramah guru TK Negeri Pembina Lotu, sebagai salah seorang guru peraih penghargaan Apresiasi GTK tahun 2025 tingkat provinsi dan nasional menuturkan bagaimana ia menggunakan bahan-bahan yang ada di alam sebagai media pembelajaran bagi murid-muridnya.
“Anak-anak menciptakan nada-nada dari alat musik sederhana, hanya dengan suara batu, kacang-kacangan, beras yang dimasukkan dalam botol air kemasan bekas, mereka bisa mengumpamakan suara yang mereka dengar itu seperti suara angin atau seperti suara hujan yang jatuh ke bumi, mereka sangat bersemangat belajar dari alat musik buatan mereka ini,” ucap Ramah.

Santoso sebagai Direktur Article 33 Indonesia sebagai penyelenggara Program Kreasi Nias Utara yang diminta tanggapannya menyampaikan rasa senang karena 2 hari penyelenggaraan Festival Pendidikan Inklusi Berbasis Budaya Lokal Nias Utara mendapatkan respon yang positif dari berbagai pihak.
“Saya secara pribadi dan lembaga sangat senang sekali melihat kegiatan dalam 2 hari ini, karena pertama karena antusiasme sekolah dan masyarakat sangat tinggi dalam acara ini dan yang kedua festival ini sepertinya memberi ruang bagi anak-anak untuk berekspresi baik dalam bentuk tari, nyanyi dan dalam bentuk karya yang dipamerkan di booth-booth mereka, acara menjadi semacam hari raya anak-anak, ini menjadi ruang ekspresi bagi mereka,” kata Santoso.
Ia mengatakan untuk tahun kedua program Kreasi Nias Utara akan lebih banyak sekolah-sekolah yang didampingi, tidak hanya 3 kecamatan namun bertambah menjadi 6 kecamatan di kabupaten Nias Utara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....