Ketidakpastian Global Ancam Stabilitas Ekonomi Dunia

  • 11 Feb 2026 13:37 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kondisi ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir, khususnya 2023 hingga 2025, menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibanding periode sebelumnya. Jika dahulu arah ekonomi dunia relatif mudah diprediksi, kini situasinya semakin sulit diperkirakan akibat tingginya ketidakpastian global.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, menyebut bahwa dinamika ini tidak lepas dari rangkaian peristiwa besar dunia. “Pada 2019 kita mengalami pandemi Covid-19, lalu di 2024 muncul kebijakan tarif yang tajam. Dulu kita berharap bisa tumbuh bersama, tetapi sekarang masing-masing negara lebih mengutamakan kepentingannya sendiri,” ujarnya saat Coffee Morning Media di Pojok Khatulistiwa BI Kalbar, Selasa, 10 Februari 2026).

Ia mencontohkan kebijakan “America First” yang mencerminkan pergeseran arah kerja sama global. Negara-negara kini cenderung menjalin kerja sama yang paling menguntungkan bagi kepentingan domestik mereka. Konsep pertumbuhan bersama dan saling bergandengan tangan dinilai semakin memudar, digantikan dengan upaya setiap negara menjaga keamanan ekonominya masing-masing.

Meski demikian, ekonomi dunia masih ditopang sejumlah negara besar seperti Jepang, India, dan Tiongkok yang kuat di sektor ekspor. Namun, penguatan indeks dolar AS menunjukkan mata uang Negeri Paman Sam semakin dominan dibanding mata uang lainnya.

Penguatan dolar ini mendorong arus modal global kembali ke Amerika Serikat. Dalam situasi krisis maupun perlambatan pertumbuhan, dana asing cenderung mengalir ke negara dengan mata uang terkuat tersebut sebagai aset aman.

Menurut Doni, kunci agar aliran modal tidak keluar dari negara berkembang adalah stabilitas. “Sepanjang stabil, investor asing akan tetap berinvestasi. Tetapi jika terjadi gejolak, mereka akan mencari tempat yang dianggap paling aman,” tegasnya.

Dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian, stabilitas ekonomi menjadi faktor utama untuk menjaga kepercayaan investor dan mempertahankan pertumbuhan di tengah dominasi dolar Amerika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....