CIFOR-ICRAF Dukung Sumsel Mandiri Pangan Lewat Program FAITH

  • 10 Feb 2026 16:54 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Banyuasin - CIFOR-ICRAF Indonesia memperkuat ketahanan pangan masyarakat di wilayah gambut Kabupaten Banyuasin melalui riset-aksi Land4Lives, Selasa 10 Februari 2026. CIFOR-ICRAF Indonesia mengedukasi warga lokal untuk menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan fluktuasi harga pasar yang tidak menentu.


Ketergantungan pasokan pangan dari luar desa selama ini meningkatkan kerentanan komunitas di Sumatera Selatan. Tim peneliti menerapkan strategi adaptasi iklim guna meningkatkan kapasitas produksi pangan secara mandiri di tingkat desa.

Lembaga ini menggandeng organisasi nirlaba Kibo Alliance dalam menyelenggarakan pelatihan pertanian bagi generasi muda. Mereka memperkenalkan program Food Always in the Home (FAITH) sebagai solusi praktis pemenuhan gizi rumah tangga.

Program FAITH mengusung prinsip pertanian cerdas iklim untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sempit di sekitar hunian. Para mentor mengajarkan teknik budidaya sayuran yang tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan di lahan basah.

Provincial Coordinator CIFOR-ICRAF Indonesia, David Susanto, menjelaskan bahwa konsep ini mendukung kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga hingga komunitas. “FAITH merupakan konsep kemandirian pangan dengan pendekatan pertanian cerdas iklim yang bisa diterapkan mulai dari tingkat rumah tangga hingga komunitas, termasuk sekolah dan pondok pesantren dengan santri yang tinggal di asrama,” ujar David.

Program FAITH melibatkan perempuan dan pemuda sebagai aktor utama dalam menggerakkan agenda ketahanan iklim tersebut. Langkah strategis ini mempercepat proses transformasi pengetahuan pertanian berkelanjutan langsung ke tingkat tapak.

Sebanyak 90 santri di Pondok Pesantren Al Khoiriyah mengikuti pelatihan intensif pada 7–9 Februari 2026. Mereka mempelajari cara menanam berbagai jenis sayuran dan umbi-umbian di lingkungan asrama secara organik.

Petani terampil dari Desa Ganesha Mukti dan Daya Murni membagikan pengalaman praktis mereka kepada para peserta. Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi turut mendampingi santri dalam praktik pembuatan kebun pangan mandiri.

Pendamping kegiatan, Yesi Lismawati, menegaskan pentingnya peran generasi milenial dalam menjaga keberlangsungan ketersediaan pangan daerah. “Masa depan kemandirian pangan sangat bergantung pada generasi muda. FAITH menjadi ikhtiar awal untuk membangun ketahanan pangan dari tingkat komunitas,” kata Yesi.

Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Khoiriyah, Muhammad Gufron, menyambut baik inisiatif pertanian ini karena sejalan dengan program Santripreneur. Muhammad Gufron merasa terbantu karena pesantren harus menyediakan 1.200 porsi makanan setiap hari untuk seluruh santri.

Selama ini pengelola pesantren membeli kebutuhan dapur dari pedagang luar desa dengan harga yang sering berubah. “Konsep FAITH selaras dengan program santripreneur yang kami rintis,” tutur Gufron saat meninjau lokasi praktik.

Kolaborasi Land4Lives juga memberikan bantuan mesin penepung untuk mendukung unit usaha ekonomi Kelompok Wanita Tani. Sinergi berbagai pihak ini membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi simpul utama dalam mewujudkan Sumsel Mandiri Pangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....