Kasus Siswa NTT Bunuh Diri Alarm Perlindungan Anak

  • 06 Feb 2026 15:56 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri akibat persoalan buku dan alat tulis, menjadi peringatan atau alarm perlindungan anak. Peristiwa itu menjadi sorotan dalam Dialog Sosial Tanjung Perak Siang, Jumat 6 Februari 2026.

Sosiolog UWKS Umar Sholahuddin menilai peristiwa tersebut menunjukkan perlindungan sosial anak dalam kebijakan pendidikan belum berjalan optimal.

“Ketika kebijakan pendidikan tidak sensitif terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga, anak justru berada pada posisi paling rentan dan berpotensi mengalami tekanan psikologis,” kata Umar.

Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak, bukan tempat yang memicu kecemasan akibat persoalan non-akademik yang sebenarnya dapat diselesaikan secara bijak.

“Perlindungan sosial anak tidak cukup dimaknai sebagai bantuan, tetapi jaminan agar anak bisa tumbuh, belajar, dan berkembang tanpa tekanan yang mengancam kesehatan mental maupun keselamatannya,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya kebijakan pendidikan yang lebih berpihak pada kepentingan terbaik anak, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan negara agar lingkungan pendidikan tetap aman, inklusif, dan berkeadilan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....