Gus Dur dan Joko Dolog Simbol Harmoni Keberagaman

  • 29 Jan 2026 01:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Talkshow kebudayaan dalam rangkaian acara Ekspresi Ragam Budaya digelar untuk memperingati haul ke-16 Gus Dur di halaman Arca Joko Dolog, Taman Apsari, Surabaya, Rabu 28 Januari 2026 malam menyoroti pesan pentingnya persatuan, keberagaman, dan merawat warisan budaya.

Talkshow menghadirkan dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) RN Bayu Aji, S.Hum., M.A., serta Panji P. Sriwijaya, S.Sos., penasehat Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog. Diskusi dipandu oleh moderator Patrick dan diikuti oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Panji menjelaskan nilai historis Arca Joko Dolog sebagai peninggalan penting Kerajaan Singasari. “Arca Joko Dolog yang terletak di Taman Apsari Surabaya adalah perwujudan Raja Prabu Kertanegara dari Singasari yang dibuat pada tahun 1289 Masehi,” ujarnya.

Ia menambahkan, arca tersebut tidak sekadar simbol kekuasaan raja. “Arca ini melambangkan Prabu Kertanegara yang disetarakan dengan Cina Maha Asokbya setingkat Buddha, sebagai simbol penyatuan dua agama besar di Singasari, yaitu Hindu Syiwa dan Buddha Tantrayana,” kata Panji.

Menurut Panji, kebijakan Prabu Kertanegara yang menyatukan dua agama itu mencerminkan kepemimpinan yang arif dan bijaksana. “Karena kebijakan beliau, dua agama besar bisa dipersatukan, dan oleh Mpu Nada dibuatlah arca ini sebagai bentuk penghormatan,” tuturnya.

Moderator Patrick kemudian bertanya kepada RN Bayu Aji mengenai alasan Arca Joko Dolog menjadi situs penting secara historis dan kultural. Aji menegaskan bahwa arca tersebut merupakan simbol identitas sekaligus persatuan.

“Joko Dolog adalah warisan budaya dan simbol persatuan pada masanya. Ini warisan yang perlu kita teladani, karena hari ini kita juga sangat membutuhkan persatuan,” ujar Aji.

Aji menekankan bahwa konflik merupakan bagian dari sejarah bangsa, namun dapat dimaknai sebagai perekat. “Secara historis, bangsa kita tidak bisa dilepaskan dari konflik, tetapi konflik itu bisa dimaknai kembali menjadi persatuan,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menormalisasi perbedaan sebagai realitas sosial. “Keberagaman itu bukan ancaman, tetapi realitas sosial yang harus dirayakan dan dinormalisasi. Kita berbeda, tetapi bisa berjalan bersama,” ucap Aji.

Panji menambahkan bahwa situs budaya seperti Arca Joko Dolog dapat menjadi ruang bersama. “Peninggalan sejarah bukan sekadar benda mati, melainkan elemen hidup yang relevan dengan masa kini dan berfungsi sebagai tempat berinteraksi serta membangun identitas kolektif,” katanya.

Ia mencontohkan praktik toleransi yang terjadi di kawasan tersebut. “Masyarakat yang datang ke sini sangat heterogen, berbeda etnis dan agama, namun mereka bisa saling berdoa lintas agama,” ujar Panji.

Aji kemudian menyoroti peran pendidikan dalam mewariskan nilai budaya. “Anak-anak perlu diajak datang langsung ke situs seperti Joko Dolog agar mengalami pembelajaran secara nyata, bukan hanya membayangkan dari buku,” katanya.

Dalam konteks pemikiran Gus Dur, Aji menegaskan bahwa budaya adalah milik bersama. “Gus Dur memandang budaya sebagai warisan bersama, bukan milik kelompok tertentu. Tradisi lokal menjadi sarana untuk saling memahami,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengekspresikan budaya agar tidak punah. “Budaya bisa hilang jika tidak diekspresikan. Seni, tradisi, dan warisan harus terus dirawat agar tetap hidup,” kata Aji.

Menutup diskusi, Panji mengajak semua pihak menjaga situs bersejarah tersebut. “Mari kita jaga kebersihan, kesucian, dan keamanan Arca Joko Dolog agar tempat ini tetap menjadi ruang bersama, tempat kita duduk bersama meski berbeda,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....