Pakar Sebut Cuaca Ekstrem Kini jadi Kenormalan Baru
- 25 Jan 2026 13:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar Geologi Lingkungan dan Kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwikorita Karnawati, menilai cuaca ekstrem kini semakin sering terjadi. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menjadi kenormalan baru.
“Saya pribadi khawatir, kondisi ekstrim itu bisa menjadi suatu kenormalan baru. Sehingga dalam kondisi pasca normal menjadi kenormalan baru seperti sekarang sering ekstrim, kayaknya kita nggak bisa kompromi,” ujarnya kepada awak media, Minggu, 25 Januari 2026.
Menurut mantan Kepala BMKG tersebut, dalam kondisi saat ini rekayasa teknik kerap kalah oleh dampak perubahan iklim. Pembukaan lahan dan kerusakan lingkungan turut memperparah risiko longsor dan banjir bandang.
“Rekayasa itu kalah dahsyat dengan dampak pembukaan lahan, dampak kerusakan lingkungan, dampak kondisi ekstrim. Cuaca ekstrim itu pun juga akibat ulah manusia, karena lahan semakin terbuka, suhu semakin meningkat,” katanya.
Ia menilai, hujan kini turun dengan intensitas jauh lebih dahsyat dibanding masa lalu. Hal itu dipicu peningkatan suhu atmosfer dan terbentuknya awan hujan masif.
Menurut Dwikorita, atmosfer kini bekerja seperti mesin uap. Kondisi tersebut membuat hujan lebat terjadi lebih sering dan merusak. Dalam situasi itu, dia menegaskan tata ruang menjadi langkah paling penting.
Rekayasa lereng, termasuk terasering, dinilai tidak lagi cukup mengimbangi cuaca ekstrem. Dwikorita menekankan, pembangunan permukiman harus patuh pada zona aman bencana.
“Sehingga rekayasa yang dulu lahir di masa-masa normal, sudah saatnya untuk kita kaji ulang. Kita harus patuh kepada tata ruang yang aman dari bahaya potensi bencana,” ucapnya.
Longsor terjadi di Kabupaten Bandung Barat di tengah cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Peristiwa tersebut memicu perhatian terhadap tingginya risiko bencana di kawasan lereng dan kaki gunung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....