Geliat Tradisi dan Keunikan Ramadhan di Kota Langsa

  • 10 Mar 2026 17:59 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Langsa - Kota Langsa, yang dikenal sebagai titik temu budaya pesisir di timur Aceh, selalu menyuguhkan atmosfer yang berbeda saat bulan suci Ramadhan tiba. Tradisi ini diawali dengan kemeriahan hari Meugang, di mana seluruh lapisan masyarakat berbondong-bondong membeli daging sapi segar untuk dimasak dan dinikmati bersama keluarga besar.

Bagi warga Langsa, Meugang bukan sekadar urusan makan enak, melainkan simbol kemuliaan dalam menyambut bulan penuh berkah. Aroma rempah dari masakan khas Aceh akan tercium dari hampir setiap dapur warga, menciptakan suasana hangat yang menandai dimulainya perjalanan spiritual selama satu bulan penuh.

Memasuki waktu sore, Kota Langsa berubah menjadi pusat wisata kuliner dadakan melalui pasar takjil yang tersebar di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan area Pusat Pasar. Keunikan berburu takjil di sini terletak pada perpaduan kuliner Melayu dan Aceh yang sangat kental, seperti Pecal Langsa yang bumbunya sangat khas serta berbagai jenis kue tradisional seperti timphan.

Keramaian ini tidak hanya melibatkan pedagang makanan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi bagi warga yang saling menyapa di tengah hiruk-pikuk mencari kudapan berbuka. Hal ini menjadikan sore hari di Langsa selalu terasa hidup dan penuh dengan energi positif dari masyarakat yang antusias.

Salah satu hal yang paling unik dan membedakan Langsa dengan daerah lain adalah tradisi ngabuburit di Hutan Mangrove Kota Langsa. Destinasi ekowisata ini menjadi pilihan utama warga untuk menunggu waktu berbuka sambil menikmati hembusan angin laut dan pemandangan hijau yang menyejukkan mata.

Menaiki menara pandang untuk melihat matahari terbenam di ufuk barat menjadi ritual favorit para remaja dan keluarga. Interaksi dengan satwa liar yang jinak di dalam hutan bakau memberikan hiburan tersendiri yang murah meriah namun sangat berkesan bagi siapa saja yang mengunjunginya di bulan puasa.

Selain keindahan alam, sisi religius Kota Langsa terpancar kuat dari Masjid Agung Darul Falah yang menjadi pusat ibadah masyarakat kota. Keunikannya terletak pada tradisi memasak Kanji Rumbi, yaitu bubur rempah khas Aceh yang dimasak dalam kuali raksasa di halaman masjid dan dibagikan secara gratis kepada siapa saja yang melintas.

Bubur yang kaya akan rempah-rempah ini dipercaya dapat memulihkan stamina setelah seharian berpuasa dan menjadi simbol kedermawanan sosial yang masih terjaga erat hingga saat ini. Kehangatan berbagi semangkuk bubur panas ini menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat di antara jamaah dan warga sekitar.

Ketika malam tiba, suasana kota tidak lantas sepi, melainkan semakin semarak dengan aktivitas ibadah dan sosial yang berjalan beriringan. Setelah pelaksanaan shalat Tarawih, tradisi tadarus Al-Qur'an menggema dari berbagai masjid dan meunasah hingga larut malam, menciptakan harmoni suara yang menenangkan jiwa. Namun, di sisi lain, budaya "ngopi" setelah ibadah juga tetap eksis di kafe-kafe modern maupun kedai kopi tradisional Langsa.

Para warga berkumpul untuk sekadar berdiskusi atau bersantai sejenak, menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Langsa tetap seimbang antara urusan ukhrawi dan duniawi.

Menjelang akhir Ramadhan, keunikan kota ini memuncak dengan tradisi penyantunan anak yatim secara besar-besaran yang biasanya dilakukan oleh komunitas maupun pemerintah setempat. Semangat berbagi ini sangat terasa di setiap sudut kota, menunjukkan sisi humanis masyarakat Langsa yang sangat peduli terhadap sesama.

Ramadhan di Kota Langsa pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang merayakan warisan budaya, keindahan alam, dan kekuatan iman yang menyatu dalam harmoni kehidupan pesisir. Kota ini berhasil menjaga jati dirinya sebagai kota yang modern namun tetap memegang teguh nilai-nilai tradisi Islam yang luhur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....