Ramadan di Negeri Sakura, Sunyi namun Penuh Makna
- 04 Mar 2026 13:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Menjelang magrib di Indonesia, aroma gorengan dan kolak biasanya menguar dari deretan lapak takjil. Suara azan bersahutan, masjid-masjid dipenuhi jemaah tarawih, dan agenda buka bersama menjadi momen yang dinanti.
Ramadan di Tanah Air bukan hanya ibadah, tetapi juga tradisi yang menghangatkan kebersamaan. Namun, ribuan kilometer dari Indonesia, suasana itu tak sepenuhnya dirasakan Siska, warga Indonesia yang telah empat tahun menetap di Fukuoka, Jepang.
Dalam program Berkah Ramadan (Berbagi Kisah Ramadan) Pro 4 RRI Medan pada Selasa, 3 Maret 2026, Siska melalui sambungan WhatsApp menceritakan bahwa Ramadan di Jepang berjalan seperti hari biasa. Aktivitas masyarakat tetap normal, tanpa tanda-tanda khusus bulan suci di ruang publik.
“Jujur, biasa saja. Vibes-nya tidak seperti di Indonesia. Di sini terasa lebih sepi,” ujarnya.
Sebagai Muslim di negeri minoritas, ia menjalani puasa dengan suasana yang lebih tenang. Tidak ada tradisi war takjil ataupun keramaian khas menjelang berbuka seperti di Indonesia.
Durasi puasa di Fukuoka tahun ini berlangsung lebih dari 12 jam, dengan imsak sekitar pukul 05.15 dan berbuka pukul 18.17 waktu setempat. Cuaca yang masih dingin menjadi tantangan tersendiri, meski menurutnya bukan itu yang paling berat. “Yang paling terasa itu sepinya. Sahur sendiri, buka sendiri, lalu ingat besok kerja lagi,” katanya.
Meski demikian, sesekali ia tetap merasakan hangatnya kebersamaan dengan berbuka puasa bersama teman-teman sesama warga Indonesia.
Di tempat kerja, rekan-rekannya yang bukan Muslim kerap menunjukkan rasa heran sekaligus simpati. Mereka mempertanyakan bagaimana dirinya mampu menahan lapar dan haus sepanjang hari. Namun, ada pula yang sudah memahami tentang puasa, bahkan mengetahui batasan makanan halal dan haram yang dapat dikonsumsi umat Muslim.
“Mereka kasihan, bingung kenapa tidak makan dan minum seharian. Tapi saya jelaskan bahwa kami sudah terbiasa sejak kecil,” ujarnya.
Untuk menentukan waktu ibadah, Siska mengandalkan aplikasi digital dan informasi daring. Menu sahur dan berbuka pun lebih sering ia siapkan sendiri.
Ketika ditanya tentang hal yang paling dirindukan, jawabannya tak berubah. “Buka bersama keluarga, tarawih ramai-ramai, suasana sahur, dan jajanan takjil itu yang paling dirindukan,” katanya.
Bagi Siska, Ramadan di Jepang memang lebih sunyi. Namun di balik kesunyian itu, ia menemukan makna yang lebih dalam tentang kesabaran dan keteguhan iman. Jauh dari tradisi yang meriah, ia belajar bahwa esensi Ramadan bukan hanya pada keramaian, melainkan pada keikhlasan hati dalam menjalaninya.
Dari Fukuoka, kisah ini mengingatkan kita bahwa Ramadan selalu menemukan jalannya untuk tetap bermakna, di mana pun umat Muslim berada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....