Ramadan di Samarinda, Perantau Bone Menahan Rindu

  • 25 Feb 2026 19:36 WIB
  •  Bone

RRI,CO.ID,Bone – Ramadan di perantauan menjadi momen penuh rindu bagi Indra Wijaya, perantau asal Bone yang telah tujuh tahun menetap di Samarinda dan bekerja di Bandara APT Pranoto Samarinda bagian Protokoler Pupuk Kaltim. Jauh dari keluarga, ia mengaku suasana puasa terasa berbeda dibandingkan saat berada di kampung halaman.

Indra menjalani Ramadan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, sambil menjalankan aktivitas kerjanya di lingkungan bandara. Ia menuturkan, perbedaan paling terasa saat sahur dan berbuka puasa karena harus lebih mandiri. “Rasanya pasti beda sekali, Kak. Harus lebih mandiri, bangun lebih awal, siapkan makanan sendiri. Tidak ada mama yang siapkan sahur seperti di Bone,” ujarnya saat diwawancarai rri.com.id, Rabu, 26 februari 2026.

Meski jauh dari kampung, Indra mengatakan suasana religius tetap terasa karena banyak perantau asal Bugis di Samarinda. Ia mengungkapkan, kebersamaan setelah salat tarawih atau tadarus bersama sesama perantau sedikit mengobati rasa rindu. “Di sini banyak orang Bugis juga, jadi masih saya temui tradisi mabaca-baca, yang hanya ada bugis. Karena sesama suku Bugis kami dipanggil kumpul makan setelah mabaca-baca, Jadi berasa masih di kampung halaman,” katanya.

Namun demikian, ada hal-hal yang tidak tergantikan. Indra mengaku paling merindukan suasana keluarga saat berbuka puasa serta masakan sang ibu. “Yang paling dikangeni itu ikan dempok khas Bone dan sayur kelor. Terutama masakan mama, itu yang paling beda,” ungkapnya. Ia menambahkan, meskipun beberapa makanan khas Bugis mudah ditemukan di Samarinda, cita rasa kampung tetap dirasa istimewa.

Dari sisi pekerjaan, Indra menyebut ritme kerja di bandara pada awal Ramadan relatif normal, sementara peningkatan aktivitas biasanya terjadi menjelang Lebaran. Menurutnya, tantangan bekerja saat puasa dapat diatasi dengan saling mengingatkan antar rekan kerja. “Kalau aktivitas pekerjaan cukup padat, tapi teman-teman juga saling mengingatkan. Mayoritas muslim juga, jadi saling menguatkan,” jelasnya.

Selama tujuh tahun merantau, Indra merasakan banyak pelajaran hidup, terutama soal menghargai waktu bersama keluarga. Ia menyadari, kebersamaan yang dulu dianggap biasa kini terasa sangat berharga. “Dulu mungkin hal biasa kumpul keluarga, tapi setelah berjauhan rasanya waktu itu begitu mahal,” tuturnya.

Indra berharap suatu saat bisa kembali berkumpul lengkap bersama keluarganya di Bone pada momen Ramadan dan Lebaran. Ia pun berpesan kepada para perantau agar tetap menjaga semangat ibadah dan menjadikan rindu sebagai penguat doa. “Lebih mandiri di kampung orang, tapi juga lebih menghargai waktu bersama keluarga,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....