Ramadan usai, Saatnya Menjaga Fitrah dan Istiqomah Ibadah

  • 18 Mar 2026 06:03 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, kesadaran umat Islam untuk kembali kepada fitrah menjadi momentum penting dalam memperbaiki diri. Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah tahunan, tetapi juga sebagai proses pembinaan spiritual yang diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini disampaikan Penghulu KUA Kecamatan Amali, Ahmad Afandi, yang menegaskan bahwa makna kembali fitrah tidak sekadar dipahami dari sisi lahiriah, melainkan lebih kepada perubahan batin seseorang setelah menjalani ibadah selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

Menurutnya, selama Ramadan umat Islam dilatih untuk menahan diri dari berbagai keinginan, memperbanyak ibadah, serta berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dilakukan di luar bulan suci. Proses tersebut menjadi latihan penting dalam membentuk karakter dan kedisiplinan spiritual.

“Makna kembali fitrah itu adalah kembali kepada hati yang bersih. Selama Ramadan kita dilatih untuk lebih sabar, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Allah SWT,” ujarnya saat dikonfirmasi rri.co.id, pada Rabu, 18 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat yang mengaitkan kembali fitrah dengan hal-hal baru seperti pakaian baru, sepatu baru, hingga penampilan baru saat lebaran bukanlah sesuatu yang salah, namun hal tersebut hanya sebatas simbol atau bagian luar semata.

“Tidak masalah dengan hal-hal baru saat lebaran, itu bagian dari tradisi. Tapi yang lebih penting adalah perubahan dalam diri, bagaimana setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih baik,” jelas Ahmad Afandi.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Ramadan merupakan momentum terbaik untuk memperbaiki diri karena selama satu bulan penuh seseorang dibiasakan melakukan kebaikan secara berulang, seperti salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga lisan. Kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus ini berpotensi menjadi karakter jika mampu dipertahankan.

Namun demikian, ia mengakui tidak sedikit masyarakat yang kembali lalai setelah Ramadan berakhir. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kesiapan untuk mempertahankan kebiasaan baik, ditambah dengan kesibukan sehari-hari, pengaruh lingkungan, serta munculnya kembali kebiasaan lama.

“Banyak orang yang semangat di bulan Ramadan, tapi setelah itu tidak punya cara untuk menjaga kebiasaan tersebut, sehingga kembali seperti sebelumnya,” ungkapnya.

Ahmad Afandi juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan terdekat dalam menjaga semangat ibadah. Menurutnya, keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan baik dan saling mengingatkan dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan.

Di akhir penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa kembali fitrah tidak berarti seseorang menjadi sempurna tanpa kesalahan. Manusia tetap memiliki kelemahan, namun yang terpenting adalah adanya kesadaran untuk terus memperbaiki diri dan menjaga nilai-nilai kebaikan setelah Ramadan, sehingga bulan suci benar-benar menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....