Ini Perbedaan Istilah Shiyam dan Shaum
- 11 Feb 2026 12:40 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Di Indonesia, istilah puasa memiliki ragam sebutan yang unik di setiap daerah. Namun, bagi umat Muslim, istilah Shaum dan Shiyam tetap menjadi primadona karena keduanya merupakan diksi asli yang termaktub langsung dalam Al-Qur’an. Meski sering dianggap sama, ternyata kedua kata ini memiliki kedalaman makna dan tingkatan yang berbeda.
Secara etimologi (bahasa), baik puasa, shaum maupun shiyam berakar dari makna Al-Imsak, yang berarti menahan diri dari sesuatu. Hal ini mencakup menahan diri dari makan, minum, berhubungan badan, hingga menjaga lisan dari perkataan yang tidak perlu.
Perbedaan penggunaan kedua kata ini dapat ditemukan dalam dua surat berbeda, kata shaum Terdapat pada QS. Maryam ayat 26, yang konteksnya lebih merujuk pada menahan diri dari berbicara (puasa bicara) sedangkan Kata Shiyam Terdapat pada QS. Al-Baqarah ayat 183 dan 184, yang menjadi dasar perintah kewajiban ibadah puasa Ramadan, meskipun mengandung arti yang serupa, para pakar bahasa dan tafsir sering membedakan keduanya berdasarkan tingkatan aktivitasnya.
Dalam sebuah ceramah nasehat Ramadan, pendakwah kondang Ustaz Das'ad Latif memberikan penjelasan tajam mengenai perbedaan mendasar antara keduanya agar umat tidak terjebak pada ritualitas semata. “ Shiyam yaitu Menahan diri dari yang Membatalkan Puasa, Shiyam adalah tingkatan dasar, Ini adalah puasa yang dilakukan sesuai aturan standar syariat, yaitu menahan lapar dan haus serta Menahan diri dari hubungan badan suami-istri mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
“shaum adalah Puasa Tingkat Plus, beliau menekankan bahwa Shaum memiliki derajat yang lebih tinggi, atau yang beliau sebut sebagai Puasa Plus. “Seseorang yang mencapai derajat Shaum tidak hanya menjaga perutnya, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dan perilakunya, Shaum itu adalah menjaga perbuatan dari segala sesuatu yang bisa mengurangi pahala puasa," jelas Ustaz Das'ad Latif dalam nasehatnya.
Beberapa hal yang dihindari dalam tingkatan Shaum meliputi Menjaga Lisan, Menghindari gosip (ghibah) dan berkata kotor, Menjaga Adab Seperti kewajiban menutup aurat bagi Muslimah dan Menjaga Perilaku: Menjauhi segala bentuk maksiat yang dapat menggugurkan pahala.
Perbedaan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Seseorang yang melakukan Shiyam tapi tetap bergosip, maka puasanya tetap sah (tidak wajib qadha), namun ia kehilangan pahala. Sebaliknya, mereka yang meraih derajat Shaum akan mendapatkan esensi takwa yang sesungguhnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....