Jude Bellingham Sekali Lagi Membuktikan Kemampuannya

  • 13 Jul 2026 15:25 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – dengan energy yang tak terbatas dan naluri mencetak gol yang tak terbantahkan, Jude Bellingham menjadi bintang saat Inggris mengalahkan Norwegia untuk mencapai semifinal Piala Dunia FIFA 2026.

Dilansir dari fifa.com, Minggu 12 Juli 2026, para pemain Inggris berkumpul di sudut lapangan untuk merayakan gol, saling berpelukan dan meneriakan kata-kata penyemangat. Namun, sang pencetak gol sudah tidak bersama mereka beberapa detik kemudian. Jude Bellingham telah berlari ke separuh lapangan sendiri, menyemangati para penggemar Inggris di stadion dengan kepalan tangan dan teriak klasik ‘Ayo!’. Dia tidak tertarik merayakan gol yang baru dicetaknya, yang dia pedulikan hanyalah melanjutkan pertandingan secepat mungkin. Dia ingin menang.

Kini menjadi pemain kunci bagi Inggris, pemain berusia 23 tahun ini membantu timnya mencapai semifinal Piala Dunia FIFA 2026 dengan mencetak kedua gol dalam kemenangan 2-1 atas Norwegia. Sebuah kemenangan yang di raih dengan susah payah dimana tim asuhan Thomas Tuchel bangkit dari ketertinggalan, tim Skandinavia mendominasi sebagian besar pertandingan, dan gol kemenangan tercipta ketika pertandingan tampaknya akan berakhir dengan adu penalty.

Bellingham lebih dari sekedar gelandang dan pencetak gol, ia selalu bermain dengan penuh semangat. Ia berlari kencang saat Inggris unggul, tetapi ia juga bekerja keras saat Three Lions berada dibawah tekanan. Ia adalah orang pertama yang meminta bola, dan orang pertama yang mempercepat tempo permainan ketika rekan-rekan setimnya perlu bereaksi.

Mantan pemain muda Birmingham City ini telah mencetak enam gol di turnamen ini, yang berarti dia dan Harry Kane kini telah mencetak 12 dari 13 gol Inggris di Piala dunia. Transisi cepat adalah komponen kunci dari gaya permainan Tuchel, dan Kane serta Bellingham cenderung menjadi pemain yang menyelesaikan serangan.

Namun, Inggris kesulitan melawan Norwegia, gagal menemukan jalur umpan dan memanfaatkan sedikit celah yang ditinggalkan Norwegia ketika mereka bertahan dengan dua barisan yang masing-masing terdiri dari empat bek dan lima gelandang.

Hal ini membuat Bellingham terus meminta dan mengincar bola, sering kali menerimanya dengan membelakangi lapangan, dan beberapa kali lebih dalam agar bisa melaju ke depan. Setelah Eberechi Eze masuk menggantikan Declan Rice di babak kedua, gelandang Real Madrid itu sedikit mundur untuk merebut kembali kendali permainan, sementara bintang Arsenal itu menempati posisi yang lebih maju. Namun, Inggris terus kesulitan.

Namun, sepanjang masa-masa sulit Inggris dalam pertandingan, mantan bintang Dortmund itu tetap menunjukkan banyak ketahanan. Contoh pertama adalah larinya ke area penalty yang meninggalkan lawan-lawannya di belakang, sebelum melepaskan tembakan dengan kaki kanannya. Yang kedua adalah gol kemenangan, ketika ia menyambut umpan Harry Kane, memanfaatkan bola muntah dari kiper Orjan Nyland.

Begitu wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama, Bellingham langsung berlari menuju ruang ganti, seolah-olah berjalan terasa tidak nyaman baginya, seolah-olah terus bergerak adalah bagian dari semangat kompetitifnya.

Pelatih Inggris Tuchel mengatakan setelah pertandingan, “ Cukup sudah. Dia melakukannya di setiap pertandingan. Dia kelas dunia, hasilnya fantastis, tetapi saya tidak senang dengan performanya. Kami beruntung.”

“Jude! Jude! Jude! Jude!” teriak para pendukung Inggris yang memadati stadion berkali-kali selama 120 menit pertandingan. Dan Bellingham membiarkan permainan sepakbolanya yang berbicara. Dia berlari kencang untuk menekan lawan, merebut bola, dan menggiring bola melewati lawan. Dia sering kali memilih untuk menahan bola untuk memancing pelanggaran atau menerobos lini pertahanan dengan kekuatan fisiknya dan dia juga tahu dimana letak gawang.

Sang kapten Harry Kane juga ikut berkomentar, “ gol-gol Jude kembali membuat perbedaan. Dia sangat menentukan dalam pertandingan-pertandingan terakhir dan sepanjang turnamen. Ini menunjukan bahwa dia memiliki bakat untuk momen-momen penting dan situasi-situasi kunci. Gol pertamanya luar biasa, dan gol keduanya hanyalah insting seorang striker.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....