Herkolanus Resmi Pimpin Cabor Boling Kubar, Siap Perjuangkan Arena Latihan
- 04 Jun 2026 21:32 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Persatuan Boling Indonesia (PBI) Kabupaten Kutai Barat resmi berganti kepengurusan. Herkolanus kini dipercaya memimpin cabang olahraga boling menggantikan Lidwina yang telah mengakhiri masa jabatannya dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua III KONI Kutai Barat.
Di bawah kepemimpinan baru, PBI Kutai Barat langsung bergerak melakukan pembenahan organisasi sekaligus menyiapkan langkah jangka panjang untuk meningkatkan prestasi atlet menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 di Kabupaten Paser.
Salah satu langkah yang diambil Herkolanus adalah melibatkan atlet aktif dalam struktur kepengurusan. Ia menunjuk Annisa Asri Henly Putri, atlet boling Kutai Barat sekaligus putri Lidwina, sebagai Sekretaris PBI Kubar.
Annisa merupakan atlet aktif asal Kubar yang tengah berkuliah di Samarinda dan mengikuti pemusatan Latihan Bersama seluruh atlet boling Kubar.
Menurut Herkolanus, keberadaan atlet dalam kepengurusan akan memudahkan organisasi memahami kebutuhan dan persoalan yang dihadapi atlet sehari-hari.
"Kami tunjuk Anissa menjadi sekretaris karena dia berada langsung di lingkungan atlet dan mengetahui kebutuhan serta kekurangan yang ada. Bagus kalau ada atlet yang sekaligus menjadi pengurus," ujarnya kepada RRI Sendawar, Kamis 4 Juni 2026.
Herkolanus yang juga Petinggi kampung Juaq Asa ini mengakui dirinya masih tergolong baru di dunia boling. Karena itu, ia membuka ruang bagi pengurus sebelumnya, pelatih, dan atlet untuk memberikan masukan demi kemajuan cabang olahraga tersebut.
"Saya mohon arahan dan masukan dari pengurus sebelumnya, pelatih, maupun atlet. Apa saja kendala yang selama ini dihadapi, silakan disampaikan agar bisa kita carikan solusi bersama," katanya.
Tantangan PBI Kubar: Belum Punya Arena Latihan
Selain membenahi organisasi, Herkolanus menilai persoalan terbesar yang dihadapi boling Kutai Barat saat ini adalah belum tersedianya arena latihan di daerah. Kondisi tersebut membuat seluruh atlet harus berlatih di Samarinda dengan biaya yang cukup besar.
"Selama ini atlet kami berlatih di Samarinda karena di Kutai Barat belum ada tempat latihan. Ke depan, kami harus memikirkan bagaimana menghadirkan fasilitas boling sendiri agar pembinaan dan regenerasi atlet bisa berjalan lebih baik," ujarnya.
Menurutnya, ketiadaan fasilitas menjadi hambatan dalam menyiapkan atlet-atlet muda. Sebagian besar atlet boling Kutai Barat saat ini merupakan mahasiswa dan pelajar yang berdomisili di Samarinda.
Tantangan lainnya adalah tingginya biaya latihan. Berbeda dengan cabang olahraga lain yang cukup menyewa lapangan atau gedung, atlet boling harus membayar setiap permainan yang dilakukan saat latihan.
"Latihan boling itu berbayar per game. Sekali latihan bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah. Ini yang menjadi tanggung jawab kami sebagai pengurus baru untuk mencari solusi bersama," kata Herkolanus.
Lidwina: Boling Olahraga Mahal
Mantan Ketua PBI Kutai Barat, Lidwina, menjelaskan bahwa tingginya kebutuhan anggaran dalam olahraga boling sering kali menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat. Padahal biaya besar tersebut muncul karena hampir seluruh arena boling dikelola pihak swasta dan menggunakan sistem pembayaran per game.
"Boling itu hampir semua arenanya milik swasta, jadi atlet membayar per game. Satu game harganya bisa lebih dari Rp40 ribu, sementara atlet biasanya minimal bermain tiga game setiap latihan. Kalau latihan lima kali seminggu tentu biayanya cukup besar," ucapnya.
Ia mencontohkan saat Babak Kualifikasi (BK) Porprov lalu, atlet harus bertanding dari pagi hingga malam selama sekitar 10 hari. Seluruh pertandingan maupun latihan tetap dihitung per game sehingga kebutuhan anggaran meningkat cukup signifikan.
"Yang perlu dipahami, biaya besar itu karena memang latihan dan pertandingan boling semuanya berbayar. Atlet-atlet ini berjuang membawa nama Kutai Barat, jadi kami ingin masyarakat memahami kondisi sebenarnya," ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, atlet boling Kutai Barat tetap menunjukkan prestasi membanggakan. Sekretaris PBI Kutai Barat, Annisa Asri Henly Putri, mengungkapkan bahwa persoalan peralatan latihan masih menjadi kendala utama yang dihadapi atlet saat ini.
"Untuk kendala, yang paling utama itu dari bola dan juga dana untuk latihan. Beberapa atlet juga masih kekurangan perlengkapan seperti bola dan sepatu latihan," katanya saat ditemui di sela kunjungan Ketua KONI Kutai Barat, Alsiyus, ke lokasi latihan atlet Kubar di Samarinda.
Menurut Annisa, para atlet menjalani latihan rutin lima kali dalam sepekan. Meski telah mendapatkan potongan biaya latihan menjelang Porprov, kebutuhan dana yang harus disiapkan tetap cukup besar.
Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para atlet. Buktinya, pada Babak Kualifikasi Porprov, tim boling Kutai Barat berhasil meraih dua medali emas, dua perak, dan dua perunggu sekaligus menempati peringkat ketiga klasemen akhir cabang olahraga boling.
Saat ini PBI Kutai Barat menyiapkan 10 atlet yang terdiri atas lima atlet putra dan lima atlet putri untuk tampil pada Porprov Kaltim 2026. Selain menjalani latihan rutin, tim juga masih menunggu program training center (TC) yang disusun pelatih.
PBI Kubar berharap dukungan dari KONI dan Pemerintah Kabupaten dapat terus mengalir, terutama untuk mewujudkan arena boling di daerah. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai penting untuk memperkuat pembinaan, memperluas regenerasi atlet, dan menjaga prestasi boling Kutai Barat di masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....