Legislator: Realisasi Investasi Jadi Ujian Kapasitas Negara
- 01 Jul 2026 01:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti menilai Indonesia sedang menghadapi ujian penting dalam bidang investasi
- Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi menarik minat negara mitra, melainkan memastikan berbagai kesepakatan investasi dapat direalisasikan menjadi proyek nyata
- Azis mengatakan, Indonesia saat ini menjadi perhatian banyak negara karena memiliki sumber daya alam, pasar domestik besar, posisi geopolitik strategis, serta peluang besar dalam rantai pasok global
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti menilai Indonesia sedang menghadapi ujian penting dalam bidang investasi. Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi menarik minat negara mitra, melainkan memastikan berbagai kesepakatan investasi dapat direalisasikan menjadi proyek nyata.
Azis mengatakan, Indonesia saat ini menjadi perhatian banyak negara karena memiliki sumber daya alam, pasar domestik besar, posisi geopolitik strategis, serta peluang besar dalam rantai pasok global. Hal itu terlihat dari banyaknya nota kesepahaman, kerja sama bisnis, dan komitmen investasi dari berbagai negara mitra.
“Dunia sudah lama mengetahui bahwa Indonesia adalah ruang ekonomi yang bernilai. Sekarang dunia kembali datang membawa modal, teknologi, investasi, dan kerja sama,” kata Azis, Rabu, 1 Juli 2026.
Ia menyebut, komitmen investasi yang diumumkan bersama berbagai negara mitra mencapai sekitar 175 miliar dolar AS. Namun, menurut Azis, besarnya nilai komitmen tersebut harus diikuti dengan kemampuan eksekusi di lapangan.
Azis menjelaskan, banyak proyek investasi besar kerap menghadapi kendala dalam tahap implementasi. Kendala tersebut antara lain perizinan, tata ruang, koordinasi lintas lembaga, kepastian regulasi, serta pembebasan lahan.
Menurutnya, persoalan itu menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas negara. Pemerintah, kata dia, harus mampu memastikan setiap keputusan dan kesepakatan dapat berjalan efektif dari tingkat pusat hingga daerah.
“MoU bukanlah keberhasilan akhir. MoU adalah pekerjaan rumah. Keberhasilan baru terlihat ketika proyek berjalan dan menghasilkan nilai ekonomi,” ujarnya.
Azis juga menilai ukuran keberhasilan investasi perlu diubah. Ia mengatakan, Indonesia tidak cukup hanya mengumumkan nilai komitmen investasi, tetapi harus mengukur realisasi, jumlah proyek yang berjalan, lapangan kerja yang tercipta, peningkatan ekspor, dan transfer teknologi.
Ia mencontohkan beberapa negara di Asia yang berhasil memanfaatkan investasi asing untuk memperkuat industri nasional. Menurutnya, keberhasilan negara-negara tersebut tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi oleh kemampuan negara mengawal proyek sampai tuntas.
Azis mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi jika mampu merealisasikan investasi strategis secara konsisten. Realisasi investasi juga dinilai dapat memperkuat industri, meningkatkan produktivitas, membuka lapangan kerja, dan memperluas kesejahteraan masyarakat.
“Indonesia tidak kekurangan modal, tidak kekurangan mitra, dan tidak kekurangan ketertarikan dunia. Yang sedang diuji adalah kapasitas negara untuk mengubah semua itu menjadi kemakmuran,” katanya.
Ia berharap pemerintah terus memperkuat orkestrasi kelembagaan agar berbagai kesepakatan investasi tidak berhenti pada seremoni. Tetapi benar-benar hadir dalam denyut ekonomi rakyat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....