Teknologi Padi Apung jadi Solusi Sawah Rawan Banjir di Gorontalo

  • 23 Jun 2026 17:31 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Teknologi padi apung menjadi salah satu inovasi yang menarik perhatian pengunjung pada Gelar Teknologi Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo. Teknologi ini diperkenalkan sebagai solusi bagi petani yang kerap menghadapi risiko gagal panen akibat banjir maupun genangan air di lahan pertanian.

Analis Pemanfaatan IPTEK Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Gorontalo, Sitti Syuhada Dwi Arista, mengatakan teknologi padi apung dirancang agar tanaman tetap dapat tumbuh meski permukaan air mengalami kenaikan.

“Prinsip utama teknologi padi apung adalah mengikuti tinggi rendahnya permukaan air. Jadi ketika air naik, tanaman padi tetap berada di atas permukaan dan tidak terendam,” ucap Sitti Syuhada, saat dikonfirmasi RRI, Selasa 23 Juni 2026.

Menurutnya, metode budidaya yang diterapkan tidak jauh berbeda dengan budidaya padi pada umumnya. Perbedaannya terletak pada media tanam yang ditempatkan dalam wadah tertentu sebelum dirangkai menjadi rakit apung.

“Teknik budidayanya hampir sama dengan budidaya padi biasa. Hanya saja padi ditanam dalam wadah seperti pot, kemudian wadah tersebut disusun di atas rakit yang mengapung di permukaan air,” kata Sitti Syuhada.

Ia menjelaskan, teknologi ini juga memiliki keunggulan dari sisi lingkungan karena memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat.

“Pada tahap awal, petani bisa memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah atau pelampung. Selain murah, cara ini juga membantu mengurangi limbah plastik di lingkungan,” tambahnya.

Teknologi padi apung dinilai mampu menjadi alternatif bagi petani yang mengelola lahan rawa maupun kawasan yang sering terdampak banjir. Dengan sistem tersebut, tanaman padi tetap dapat tumbuh tanpa terganggu perubahan tinggi muka air.

Sitti Syuhada menilai inovasi ini sangat relevan diterapkan di sejumlah wilayah Gorontalo yang memiliki karakteristik lahan tergenang, terutama saat musim hujan dengan curah hujan tinggi.

“Teknologi ini sangat cocok diterapkan di kawasan persawahan sekitar Danau Limboto yang sering menghadapi persoalan genangan air,” ucapnya.

Melalui Gelar Teknologi PENAS XVII, BRMP Gorontalo berharap inovasi padi apung semakin dikenal masyarakat dan dapat diadopsi oleh petani sebagai upaya meningkatkan ketahanan produksi pangan di daerah rawan banjir.

Penerapan teknologi sederhana dan ramah lingkungan tersebut diharapkan mampu membantu petani menjaga produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....