Harga Sawit Turun, Pengamat Ungkap Masalah Rantai Produksi

  • 09 Jun 2026 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pelemahan rupiah seharusnya meningkatkan pendapatan ekspor komoditas sawit.
  • Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit turun meski dolar AS menguat.
  • Keuntungan dari penguatan dolar lebih banyak dinikmati eksportir dibanding petani.

RRI.CO.ID, Jakarta – Penurunan harga tandan buah segar kelapa sawit terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Kondisi ini menjadi sorotan karena tidak sejalan dengan teori ekonomi yang menguntungkan sektor ekspor.

Fenomena tersebut terjadi di Indonesia dan berdampak langsung pada petani kelapa sawit sebagai pelaku utama. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar seharusnya meningkatkan pendapatan dari ekspor komoditas sawit secara keseluruhan.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, Rumayya, PhD mengatakan penurunan terjadi pada tingkat petani. Sementara harga crude palm oil di pasar global relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir.

"Jadi di level petani itu yang harganya turun, padahal penerimaannya seharusnya meningkat. Penerimaan dari penjualan CPO-nya, nah ini memang masalah rantai produksi ya,” kata Rumayya dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Selasa, 9 Juni 2026.

Ia menjelaskan persoalan utama berada pada rantai produksi yang tidak seimbang antara petani dan industri. Petani memiliki posisi tawar lemah karena berhadapan dengan sedikit pembeli dari pabrik kelapa sawit.

"Artinya banyak petani itu berhadapan dengan penjual yang sedikit yaitu PKS, pabrik lapas sawit, jadi daya tawarnya memang di petani ya. Mereka tidak punya kekuatan untuk membuat harga, tapi dari sisi pabriknya, nah tapi di ujungnya itu Oligopoli,” ungkapnya.

Selain itu, terdapat indikasi penahanan margin keuntungan di tingkat tengah akibat ketidakpastian kebijakan pemerintah. Pelaku industri disebut mengambil langkah menunggu sambil menahan distribusi keuntungan ke petani.

"Ini sepertinya ada penahanan, penahanan margin di level di tengah ini. Nah itu perlu diinvestigasi, tapi salah satu indikasinya adalah karena adanya perubahan-perubahan kebijakan,” kata dia.

Rumayya menilai faktor global seperti minyak nabati lain tidak terlalu memengaruhi harga sawit secara signifikan. Sawit tetap menjadi komoditas dengan harga paling kompetitif di pasar internasional.

Namun, keuntungan dari selisih kurs lebih banyak dinikmati oleh eksportir dibandingkan petani di tingkat bawah. Kondisi ini menunjukkan distribusi margin belum merata dalam rantai industri kelapa sawit nasional.

Ia menambahkan petani sering tidak memiliki kontrak resmi dengan pabrik sehingga posisi mereka semakin lemah. Pemerintah perlu mendorong kemitraan agar harga lebih transparan dan adil bagi petani. (Sarah Maulida Ali)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....