PPP Terancam Kehilangan Satu Juta Suara di Pemilu 2029

  • 12 Mei 2026 15:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua DPP PPP Muda Peduli, Indra Hakim Hasibuan menyebut PPP terancam kehilangan lebih dari satu juta suara pada Pemilu 2029 karena sejumlah caleg peraih suara terbanyak pada Pemilu 2024 kini tak lagi aktif di partai.
  • Sebagian dari para caleg potensial Partai Ka'bah saat ini ada yang menjabat komisaris BUMN dan yang lainnya memilih berpindah partai.

RRI.CO.ID, Jakarta - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) disebut terancam kehilangan lebih dari satu juta suara pada Pemilu 2029. Ancaman itu muncul karena sejumlah calon legislatif (caleg) peraih suara terbanyak pada Pemilu 2024 kini tak lagi aktif di partai.

Sebagian dari para caleg potensial Partai Ka'bah tersebut, ada yang menjabat komisaris BUMN. Sementara yang lainnya memilih berpindah partai.

Ketua DPP PPP Muda Peduli, Indra Hakim Hasibuan, mengatakan suara besar tersebut berasal dari sejumlah tokoh senior PPP. Di mana, pada pemilu-pemilu sebelumnya mereka menjadi andalan partai sebagai pendulang suara signifikan.

Ia menyebut beberapa nama tersebut antara lain Achmad Baidowi, Muhamad Aras, Amir Uskara, Arwani Thomafi, Ema Umiyyatul Chusnah, Nurhayati Effendi. Kemudian, Iliza Sa'aduddin Djamal, Neng Siti Julaiha, Rojih Ubab Maimoen, Anas Tahir hingga Pepep Saiful Hidayat sebagai kontributor suara besar PPP pada Pemilu 2024.

“Para senior ini punya peran besar dan menyumbang suara hampir satu juta, Achmad Baidowi saja meraih 359 ribu suara, Muhamad Aras 110 ribu suara. Sementara yang lain rata-rata 80–90 ribu suara,” kata Indra dalam keterangan tertulisnya, Selasa 12 Mei 2026.

Menurut Indra, sejumlah tokoh seperti Achmad Baidowi, Amir Uskara, Muhamad Aras, dan Arwani Thomafi kini menjabat komisaris BUMN yang melarang mereka menjadi anggota partai politik. Sementara itu, beberapa nama lain berpotensi pindah partai, bahkan Ema Umiyyatul Chusnah disebut sudah bergabung ke Partai Amanat Nasional (PAN).

Ia menilai kondisi tersebut membuat para tokoh tersebut berpotensi tidak lagi menjadi mesin suara bagi PPP pada Pemilu 2029. Indra juga menyoroti kondisi internal DPP PPP yang dinilai belum solid di bawah kepemimpinan Ketua Umum Muhamad Mardiono dan Sekjen Taj Yasin Maimoen.

Menurutnya, friksi internal pasca-islah di antara keduanya masih terasa, bahkan disebut malah semakin renggang. Ia menyebu, Ketua Umum seolah berjalan sendiri tanpa melibatkan Sekjen dalam sejumlah agenda konsolidasi partai.

Hal tersebut, menurutnya, terlihat di berbagai acara partai, seperti musyawarah wilayah (Muswil) dan musyawarah cabang (Muscab) di berbagai daerah. “Kami tidak nyaman untuk konsolidasi dan fokus membesarkan partai, ini sangat memprihatinkan bagi kader dan pengurus di daerah,” ujarnya.

Indra menambahkan, para caleg peraih suara terbanyak 2024 yang gagal dilantik karena PPP tidak lolos ambang batas parlemen 4 persen kini menjadi incaran partai lain. Ia khawatir kondisi tersebut semakin berat jika ambang batas parlemen dinaikkan menjadi 5–6 persen.

Ia pun meminta elite PPP segera melakukan introspeksi dan mengakhiri friksi internal. Hal ini demi menjaga soliditas partai untuk agenda pemilu mendatang.

“Turunkan ego, rangkul kembali kader dan senior yang pernah membesarkan partai. Dengan langkah itu kami optimistis PPP bisa kembali ke Senayan pada 2029,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....