SPHP Jagung Sasar 5 Ribu Peternak di 26 Provinsi
- 30 Apr 2026 06:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bapanas mulai gulirkan SPHP jagung pakan pekan ini
- Program sasar lebih dari 5 ribu peternak di 26 provinsi
- Total populasi ternak terdampak mencapai 53 juta ekor unggas
- Harga jagung tembus Rp6.758/kg atau 16,52 persen di atas HAP
- Alokasi penyaluran capai 242 ribu ton hingga akhir 2026
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan mulai bergulir pekan ini. Program ini menyasar lebih dari 5 ribu peternak dengan total 53 juta ekor unggas di 26 provinsi.
Direktur SPHP Bapanas, Maino Dwi Hartono menyampaikan penugasan kepada Perum Bulog telah diterbitkan. Verifikasi data penerima juga telah rampung bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
“Kami sudah menugaskan Bulog untuk penyaluran SPHP jagung dan minggu ini mudah-mudahan bisa segera tersalurkan,” ucapnya di rapat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin 27 April 2026.
Ia mengatakan program ini digulirkan merespons kenaikan harga jagung di tingkat peternak. Per 27 April, harga jagung mencapai Rp6.758 per kilogram atau 16,52 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp5.800 per kilogram.
Total alokasi penyaluran SPHP jagung pakan mencapai 242 ribu ton hingga akhir 2026. Pada tahap awal diperkirakan tersalurkan 213,1 ribu ton, dengan sisa alokasi sekitar 28,8 ribu ton.
“Targetnya 242 ribu ton dan menjangkau 26 provinsi. Lebih luas dari tahun sebelumnya yang hanya 17 provinsi,” kata Maino.
Penyaluran dilakukan melalui koperasi atau asosiasi kepada peternak yang terdaftar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3540/KPTS/HK.150/F/03/2026.
Bapanas menetapkan harga jagung Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog. Sementara harga maksimal di tingkat peternak dipatok Rp5.500 per kilogram.
Sisa alokasi disiapkan untuk mengakomodasi tambahan peternak baru. Termasuk peternak babi yang masih dalam proses pengajuan dari daerah.
Kenaikan harga pakan dinilai berpotensi memicu kenaikan harga telur ayam ras dan daging ayam ras. Kondisi ini turut menjadi perhatian pemerintah dalam menjaga inflasi pangan.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi bersama emas perhiasan hingga Maret 2026.
“Daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi hingga Maret,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.
BPS juga mencatat pada pekan keempat April, sebanyak 98 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras. Sementara 184 daerah mengalami penurunan.
Untuk daging ayam ras, sebanyak 89 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH. Sedangkan 203 daerah lainnya mencatat penurunan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....