Penjelasan Kematian Anak Harimau Benggala di Eks Kebun Binatang Bandung

  • 28 Mar 2026 22:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menjelaskan terkait kematian dua ekor anak harimau benggala (Panthera tigris tigris). Kedua harimau ini merupakan koleksi Eks Kebun Binatang Bandung, bernama Hara dan Huru yang masing-masing berusia 8 bulan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi, kedua satwa tersebut dinyatakan mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). Yakni penyakit virus yang sangat menular dengan tingkat kematian tinggi, terutama pada satwa famili Felidae berusia muda.

Plt. Kepala BBKSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty, menjelaskan bahwa kejadian bermula pada 22 Maret 2026. Saat itu, tim medis melaporkan bahwa Hara menunjukkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare.

“Dari pemeriksaan awal ditemukan adanya parasit cacing. Sehingga diberikan penanganan berupa obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin,” kata Amny, Sabtu, 28 Maret 2026.

Sebagai langkah pencegahan, harimau Huru yang berada dalam satu kandang turut diberikan vitamin dan obat cacing. Keduanya kemudian dipisahkan untuk meminimalkan risiko penularan.

BBKSDA Jawa Barat selanjutnya berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung. Pihaknya juga berkordinasi dengan tim medis veteriner UPTD Rumah Sakit Hewan Jawa Barat untuk penanganan lanjutan secara terpadu.

Pada 23 Maret 2026, kondisi Hara dilaporkan memburuk dengan gejala diare berdarah. Hasil rapid test dari sampel feses menunjukkan positif FPV.

“Meski telah dilakukan penanganan intensif, Hara dinyatakan mati pada 24 Maret 2026 pukul 09.14 WIB. Hasil nekropsi menunjukkan perdarahan masif pada saluran pencernaan serta kerusakan vili usus yang menjadi ciri khas infeksi FPV,” Ujarnya.

Sementara itu, Huru mulai menunjukkan gejala serupa pada 25 Maret 2026. Penanganan dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak, termasuk dokter hewan dari BBKSDA Jawa Barat.

Kondisi Huru sempat membaik, namun akhirnya dinyatakan mati pada 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB. Hasil nekropsi terhadap Huru juga menunjukkan adanya perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, serta luka pada lambung.

Uji diagnostik kembali mengonfirmasi positif infeksi FPV. Pihaknya telah menyimpulkan basil pemeriksaan klinis dan hasil uji laboratorium.

“Disimpulkan bahwa kematian kedua anak harimau tersebut disebabkan oleh infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Jawa Barat bersama pengelola Eks Kebun Binatang Bandung akan meningkatkan langkah biosekuriti,” ucapnya.

Pihaknya akan melakukan desinfeksi lingkungan secara intensif. Serta memperketat pengawasan terhadap kesehatan satwa, khususnya karnivora dari famili Felidae.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....